Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2018

Juara II Lomba Hafal Qur’an Sedunia, Rifdah Farnidah Difasilitasi Haji

Juara II Lomba Hafal Qur’an Sedunia, Rifdah Farnidah Difasilitasi Haji

View Article
Rifdah Farnidah (tengah) bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (dua dari kanan) dan Syeikh Khalid Al Hamoudi di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (29/03/2018).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membuat media sosial pada Jumat (30/03/2018) ini mengharu biru. Adalah kisah yang dituturkan Anies tentang seorang Muslimah, warga negara Indonesia, yang berprestasi di dunia internasional.

Namanya Rifdah Farnidah, usianya 22 tahun. Masih belia, tutur Anies, namun Rifdah telah membawa nama Indonesia cemerlang di panggung dunia.

Rifdah baru kembali dari Yordania ikuti Musabaqah Hifdzil Quran sedunia dan meraih juara II. Hanya ia juara yang bukan berasal dari negara Timur Tengah.

Ya, Rifdah adalah seorang hafidzah yang mutqin. Al-Qur’an 30 juz ia hafalkan. Tahun lalu ia juara pertama MHQ nasional mewakili DKI Jakarta, kali ketiganya ia raih juara pertama MHQ tingkat nasional.

“Semalam (Kamis, Red) Rifdah kami undang ikut hadir dalam acara silaturahim ulama di Balai Kota. Ia datang bersama ibundanya, dan pembimbingnya, Hj Mutmainnah, dosen di Institut Ilmu Al Quran,” tutur Anies lewat berbagai akun media sosial terverifikasinya baik Instagram maupun fanspage Facebook, Jumat (30/03/2018).

Di tengah acara, Anies mengundang Rifdah maju. Di depan, Rifdah membacakan firman Allah dalam al-Quran pada Surat Al-Hasyr ayat 18-24.

“Di ruang depan Balai Kota yang usia bangunannya dua abad, di ruang yang tak biasa jadi tempat dilantunkannya al-Qur’an, puluhan ulama, habib, ustadz, dan ustadzah hening, haru, dan khusyuk menyimak lantunan ayat dari suara yang bening. Sebagian kita yang hadir mulai terlihat mengusap butiran air dari matanya,” tuturnya.

Sesudah Rifdah selesai lantunkan ayat suci al-Qur’an itu, Syeikh Khalid Al Hamoudi, tamu kehormatan acara malam itu, yang  juga seorang ulama dari Makkah, angkat bicara.

Syeikh Khalid sampaikan kekaguman dan apresiasi kepada Rifdah. Lalu ia umumkan, “Perkenankan saya sampaikan hadiah kepada Rifdah. Kami akan sepenuhnya fasilitasi Rifdah bersama kedua orangtuanya, juga ibu dosen pembimbing Rifdah beserta suaminya, untuk diberangkatkan ibadah haji.

Baca jugaInilah Delapan Keutamaan Membaca Al-Qur'an
Baca jugaDi Hari Kiamat Nanti, Al-Quran Membela Orang Yang Membacanya

Saya akan tunggu dan sambut di Makkah, dimana Rifdah dan rombongan akan menjadi tamu Allah, dan tamu kehormatan di mata saya.”

Puluhan hadirin sontak bertakbir dan tahmid. Ruangan bergema, hati tergerak, mata membasah, tutur Anies.

Belum selesai, Syeikh Khalid lanjutkan, “Saya punya dua anak perempuan yang juga hafidzah dan sudah lancar tilawah Qur’an dalam berbagai qiroat.

Kini saya punya tiga anak perempuan, Rifdah saya angkat menjadi anak perempuan saya yang ketiga.”

Tak ada hadirin yang tak terharu mendengarnya, puluhan pasang mata menitikkan airnya. Takbir dan tahmid bersahutan. Bangunan kokoh Balai Kota terasa bergetar.

“Itulah sekelumit kisah penyambutan Rifdah semalam di Balai Kota.*ABW,” pungkas Anies.

Kisahnya itu diserta unggahan sejumlah acara yang mengharukan tersebut. Pantauan hidayatullah.com di Instagram (IG), unggahan tersebut diganjar sedikitnya 67,966 tanda suka.

Para pengguna IG mengapresiasi kisah Anies tersebut.

“Masyaa Allah…. sampai netes bacanya,” tulis @kartini.sl.

“MasyaAllah Alhamdulillah tks pa Gubernur Anies yg berfrestasi seperti ini hrs dimunculkan dihargai disupport agar generasi selanjutnya dpt mencontohnya, selamat Rifda…semoga Allah memberkahi Amin…,” komentar @wadania_nia.

Baca jugaInilah Keutamaan Mengkhatamkan Al-Quran Di Bulan Ramadhan
Baca jugaInilah Penjelasan Arti dan Makna Dari Islam

Senada itu, warganet dengan nama Rani Nurhairani mengaku turut terharu atas kisah tersebut.

“Tak terasa airmata ini bercucuran, terharu, dan bangga rasanya pada hafidzah Qur’an, dan pada Bapak Anies. Baru kali ini, seorang Gubernur menyambut seorang hafidzah al-Qur’an, semoga berkah buat NKRI ya, Pak,” tulisnya mengomentari penuturan Anies di fanspage-nya. [Hidayatullah]

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur
Kiat Rifdah Farnidah Menghafal Qur’an, Termasuk Enggan Pacaran

Kiat Rifdah Farnidah Menghafal Qur’an, Termasuk Enggan Pacaran

View Article

Rifdah Farnidah (22 tahun), Muslimah berjilbab yang meraih juara dua Musabaqah Hafalan al-Qur’an (MHQ) Internasional Tahun 2018 di Jordania, mengaku sangat bersyukur karena dapat mewujudkan impiannya menjadi seorang penghafal al-Qur’an dan meraih prestasi di ajang MHQ Internasional.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa mewujudkan impian saya. Ini juga karena dukungan orangtua saya yang selalu berpuasa setiap kali saya mengikuti musabaqah agar diberikan kelancaran mengikuti MHQ,” ujar mahasiswi Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta ini usai bertemu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Jakarta, Senin (02/04/2018) lansir Kemenag, Selasa (03/04/2018).

Apa saja kiat Rifdah sehingga bisa menghafal kitab suci dan menjaganya?

Ia bertutur, proses menghafal al-Qur’an ia lakukan setiap usai shalat tahajud, karena waktu-waktu itu mempermudah proses menghafal.

“Tahap pertama saya menghafal satu halaman dahulu, setiap ayatnya dihafal berulang-ulang hingga hafal betul, biasanya 1 hari dapat lima halaman al-Qur’an,” ucapnya.

Ia menuntaskan hafalan 30 juz dalam kurun waktu 7 tahun, mulai menghafal sejak usia 10 tahun, dan menyelesaikannya saat tamat Madrasah Aliyah.

Baca jugaInilah Delapan Keutamaan Membaca Al-Qur'an
Baca jugaDi Hari Kiamat Nanti, Al-Quran Membela Orang Yang Membacanya

Lalu bagaimana kiat menjaga hafalannya? Firda menyampaikan, ia terus mengulangnya setiap harinya paling sedikit 5 juz.

“Saya biasanya tidak berurutan, misal setelah shalat subuh mengulang hafalan (murojaah) juz 1, setelah zhuhur juz 11, dan setelah maghrib juz 21,” katanya.

“Mengapa tidak berurutan, supaya tidak ada kecemburuan antara juz lain, itu metode menghafal yang saya lakukan,” ujarnya tersenyum.

Ketika ditanya, adakah pantangan agar hafalannya terjaga dan dirinya masih muda. Menurutnya, sementara ini tidak mau berhubungan dengan lawan jenis (pacaran) dahulu.

Ia mengaku prihatin, saat ini banyak generasi muda dan masih sekolah sudah pacaran. Menurutnya, akan mempersulit menghafal al-Qur’an dan menjaganya.

Sebagai anak muda, Rifdah ingin menemukan generasi penghafal al-Qur’an, khususnya generasi muda sekarang yang sudah terkontaminasi gadget dan media sosial.

“Mudah-mudahan selanjutnya banyak generasi muda yang menghafal al-Qur’an,” ucapnya.

Ia berpesan bagi generasi muda untuk tetap semangat membaca, menghafal dan mengkaji al-Qur’an. Karena sesungguhnya, ujarnya, bagi siapa yang membaca, menghafal, dan mengkaji al-Qur’an akan mendapat syafaat di hari kiamat.

Baca jugaInilah Keutamaan Mengkhatamkan Al-Quran Di Bulan Ramadhan
Baca jugaInilah Penjelasan Arti dan Makna Dari Islam

Rifdah (Jakarta) bersama tiga hafidz lainnya; Muhammad Abdul Faqih (Jawa Tengah) Juara III Musabaqah Hafalan Alquran (MHQ) tahun 2017 di Arab Saudi, Faisal Ilahi (Riau), Juara II MHQ tahun 2017 di Bahrain,  dan Ayatullah Ahmad Syuro (Banten) Juara III MHQ+Tilawah Tahun 2017 di Maroko, mendapat hadiah berupa uang pembinaan dari Kementerian Agama yang diserahkan Menteri Agama.

Tampak hadir, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, Direktur Penais  Khoirudddin, Kakanwil Kemenag Riau Ahmad Supardi, Kakanwil Kemenag DKI Jakarta Saiful Mujab, keluarga dan pembimbing para hafidz. [hidayatullah]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur
Kiat Rifdah Farnidah Menghafal Alquran dan Menjaga Hafalannya

Kiat Rifdah Farnidah Menghafal Alquran dan Menjaga Hafalannya

View Article

Rifdah Farnidah, gadis berusia 22 tahun dan juara dua Musabaqah Hafalan Alquran (MHQ) Internasional Tahun 2018 di Jordania mengaku sangat bersyukur karena dapat mewujudkan impiannya menjadi seorang penghafal Alquran dan meraih prestasi di ajang MHQ Internasional.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa mewujudkan impian saya,  ini juga karena dukungan orang tua saya yang selalu berpuasa setiap kali saya mengikuti musabaqah agar diberikan kelancaran mengikuti MHQ," ujar mahasiswi Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta usai bertemu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Jakarta, Senin (02/04).

Proses menghafal Alquran,  ia lakukan setiap usai shalat tahajud, karena waktu-waktu itu menurutnya mempermudah proses menghafal.

"Tahap pertama saya menghafal  satu halaman dahulu, setiap ayatnya dihafal berulang-ulang hingga hafal betul, biasanya 1 hari dapat lima halaman Alquran," ucapnya.

Ia menuntaskan hafalan 30 juz dalam kurun waktu 7 tahun, mulai menghafal sejak usia 10 tahun, dan menyelesaikannya saat tamat Madrasah Aliyah.

Lalu bagaimana kiat menjaga hafalannya, Firda menyampaikan, ia terus mengulangnya setiap harinya paling sedikit 5 juz.

Baca jugaInilah Delapan Keutamaan Membaca Al-Qur'an
Baca jugaDi Hari Kiamat Nanti, Al-Quran Membela Orang Yang Membacanya

"Saya biasanya tidak berurutan, misal setelah shalat Shubuh mengulang hafalan (murojaah) juz 1, setelah Dzuhur juz 11, dan setelah Maghrib juz 21," katanya.

"Mengapa tidak berurutan, supaya tidak ada kecemburuan antara juz lain, itu metode menghafal yang saya lakukan," ujarnya tersenyum.

Ketika ditanya, adakah pantangan agar hafalannya terjaga dan dirinya masih muda. Menurutnya, sementara ini tidak mau berhubungan dengan lawan jenis dahulu.

Ia mengaku prihatin, saat ini banyak generasi muda dan masih sekolah sudah pacaran. Menurutnya, akan mempersulit menghafal Alquran dan menjaganya.

Sebagai anak muda, Rifdah ingin menemukan generasi penghafal Alquran, khususnya generasi muda sekarang yang sudah terkontaminasi gadget dan media sosial.

"Mudah-mudahan selanjutnya banyak generasi muda yang menghafal Alquran," ucapnya.

Ia berpesan bagi generasi muda untuk tetap semangat membaca, menghafal dan mengkaji Alquran. Karena sesungguhnya,  ujarnya, bagi siapa yang membaca, menghafal, dan mengkaji Alquran akan mendapat syafaat di hari kiamat.

Rifdah bersama 3 hafidz lainnya saat berfoto bersama Menag Lukman Hakim Saifuddin

Rifdah (Jakarta) bersama tiga hafidz lainnya; Muhammad Abdul Faqih (Jawa Tengah) Juara III Musabaqah Hafalan Alquran (MHQ) tahun 2017 di Arab Saudi, Faisal Ilahi (Riau), Juara II MHQ tahun 2017 di Bahrain,  dan Ayatullah Ahmad Syuro (Banten) Juara III MHQ+Tilawah Tahun 2017 di Maroko mendapat hadiah berupa uang pembinaan dari Kementerian Agama yang diserahkan Menteri Agama.

Baca jugaInilah Keutamaan Mengkhatamkan Al-Quran Di Bulan Ramadhan
Baca jugaInilah Penjelasan Arti dan Makna Dari Islam

Tampak hadir, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, Direktur Penais  Khoirudddin, Kakanwil Kemenag Riau Ahmad Supardi, Kakanwil Kemenag DKI Jakarta Saiful Mujab, keluarga dan pembimbing para hafidz.

Sumber: Website Kementrian Agama RI
Membanggakan, Wanita Indonesia Ini Juara 2 Menghafal Al Quran Internasional

Membanggakan, Wanita Indonesia Ini Juara 2 Menghafal Al Quran Internasional

View Article

Rifdah Farnidah, wanita cantik asal Sumedang yang menorehkan prestasi di kancah internasional. Wanita berusia 22 tahun ini baru saja meraih juara dua Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ) tingkat internasional untuk putri, di Amman, Yordania.

Musabaqah Hifzil Quran adalah salah satu cara membaca Al Quran untuk menguji sejauh mana kefasihan bacaan dan kelancaran hafalan, bagi yang sudah hafal maupun yang masih dalam proses menghafal.

Pada acara tahunan yang sudah digelar 13 kali ini, gadis berdarah Sunda tersebut bersaing dengan 29 peserta dari 28 negara di Eropa, Asia dan Afrika pada kategori Tahfizh 30 juz.

Atas prestasinya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengundang Rifdah untuk hadir dalam acara silaturahmi ulama di Balai Kota pada Kamis, 29 Maret 2018. Dia hadir dengan dampingan sang ibunda dan pembimbingnya, Hj. Mutmainnah, seorang dosen di Institut Ilmu Al Quran.

Baca jugaInilah Delapan Keutamaan Membaca Al-Qur'an
Baca jugaDi Hari Kiamat Nanti, Al-Quran Membela Orang Yang Membacanya

“Rifdah adalah seorang hafidzah (penghafal Al Quran) yang mutqin. Al Quran 30 juz ia hafalkan. Tahun lalu, dia juara pertama MHQ nasional mewakili DKI Jakarta. Ini jadi kali ketiga dia memenangkannya,” kata Anies Baswedan yang dikutip Dream dari laman Facebook, Jumat (30/3/2018).

Pada acara tersebut, Anies mengundang Rifdah untuk maju membacakan surah Al Hasyr ayat 18-24. Puluhan tamu seperti ulama, habib, ustaz dan ustazah, mendadak hening, haru dan khusyuk menyimak lantunan ayat suci dari suara bening Rifdah.

Setelah dia selesai lantunkan penggalan Al Quran itu, salah satu tamu yang hadir, Sheikh Khalid Al Hamoudi, seorang ulama dari Mekkah, menyampaikan kekaguman dan apresiasi kepada Rifdah. Ia bahkan memberikan hadiah kepada Rifdah.

“Kami akan sepenuhnya fasilitasi Rifdah bersama kedua orangtuanya, juga ibu dosen pembimbing Rifdah beserta suaminya, untuk diberangkatkan ibadah haji. Saya akan tunggu dan sambut di Mekkah, di mana Rifdah dan rombongan akan menjadi tamu Allah, dan tamu kehormatan di mata saya,” ucap Sheikh Khalid Al Hamoudi.

Baca jugaInilah Keutamaan Mengkhatamkan Al-Quran Di Bulan Ramadhan
Baca jugaInilah Penjelasan Arti dan Makna Dari Islam

Sontak ruang balai kota riuh dengan puluhan hadirin bertakbir dan tahmid mendengar pernyataan dari Sheikh Khalid Al Hamoudi. Ruangan bergema, hati tergerak, mata membasah.

Tak hanya itu, Sheikh Khalid yang sudah memiliki dua putri — yang juga pandai hafal Al Quran — mengangkat Rifdah sebagai putri ketiganya.

“Rifdah saya angkat menjadi anak perempuan saya yang ketiga,” tuturnya. [sulseslsatu]

Selasa, 27 Maret 2018

MUI Jember: Buku '57 Khutbah Jumat' Terindikasi Berpaham Syiah

MUI Jember: Buku '57 Khutbah Jumat' Terindikasi Berpaham Syiah

View Article

Majelis Ulama Islam Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyatakan bahwa buku berjudul '57 Khutbah Jumat' terindikasi berpaham keagamaan Syiah yang bertentangan dengan paham keagamaan mayoritas muslim di Indonesia yakni Sunni.

Buku berjudul lengkap '57 Khutbah Jumat: Runut Logika Agama yang Terpadu dengan Kebangsaan dan Sentuhan Doa' ini diterbitkan lembaga Islam Integral yang dipimpin Ali Assegaf. Buku ini mendapat pengantar dari Kepala Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif.

Dalam sinopsis di sampul belakang buku tertulis: ide pembuatan buku ini bermula dari keprihatinan terhadap banyaknya kajian agama tanpa menyertakan wacana bangsa, wacana Pancasila di dalamnya, begitu pun sebaliknya.

"Buku itu sangat berpotensi meresahkan. Banyak paham Syiah yang dikembangkan di situ. Pengantarnya Pak Yudi Latif, tapi nama penulis tidak dicantumkan. Antara kata pengantar dan isi buku tidak berkaitan sama sekali," kata Ketua MUI Jember Abdul Halim Subahar.

Isi buku tersebut, menurut Halim, bertentangan dengan paham arus utama keislaman di Indonesia dan tidak akurat. "Kajian (dalam buku itu) dangkal dan hanya mengutip tiga pendapat yang biasa dikembangkan Syiah dalam melihat Ahlul Bait, seperti pandangan Ali bin Abu Thalib, pandangan Hasan, pandangan Husein, tidak ada pandangan lain di buku itu. Padahal itu didesain buku khotbah. Saya yakin 99 persen masjid di Jember akan menolak (buku) itu," kata guru besar Institut Agama Islam Negeri Jember ini.

"Maka, MUI memberikan pernyataan: agar buku itu tidak diedarkan. Bahaya, karena akan memicu keresahan," kata Halim.

Sebelumnya, TNI Komando Distrik Militer 0824 dimintai bantuan oleh Ali Assegaf untuk mendistribusikan buku tersebut untuk 2.018 masjid di Jember. Namun reporter Beritajatim.com mendadak mendapat pesan WhatsApp dari Bagian Humas Kodim 0824 yang meminta agar mengembalikan buku yang dihadiahkan Ali Assegaf untuk wartawan kepada Kodim. Belakangan terungkap, bahwa buku itu tengah dikaji oleh MUI Jember.

Dimintai konfirmasi terpisah, Ali keberatan jika bukunya disebut berwarna Syiah. "Tunjukkan di mana Syiah-nya? Ali (bin Abi Thalib) itu adalah khalifah," katanya.

Sebelumnya, usai Sarasehan Merekatkan Bangsa Memperkokoh NKRI, di Aula Komando Distrik Militer 0824, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (12/3/2018) lalu, Ali mengatakan, buku itu dibuat dengan motivasi membangun.

"Saya melihat Islam melahirkan nilai-nilai Pancasila dan dalam Islam ada media salat Jumat. Kita tidak ingin salat Jumat menjadi tempat yang justru tidak mengenalkan fungsi negeri dan Pancasila. Selama ini saya lihat nilai dalam Islam dan Pancasila sering dibuat tidak sinkron," katanya. [annasindonesia/berdakwah]

Kamis, 22 Maret 2018

Ini Al-Qur’an Kuno Bukti Islam Masuk Papua Sejak 1224

Ini Al-Qur’an Kuno Bukti Islam Masuk Papua Sejak 1224

View Article
Foto: Raja Patipi ke XVI, H. Ahmad Iba menunjukkan Al-Qur'an kuno di rumahnya di Fakfak, Papua. (Foto: Taufik)

Islam ternyata telah masuk ke tanah Papua sejak 17 Juli 1224 M. Salah satu peninggalannya yang tersimpan adalah Al-Qur’an kuno. Hal itu diungkapkan oleh raja Patipi ke XVI, H. Ahmad Iba. Ia mengatakan bahwa Islam masuk ke Papua dibawa oleh Syaikh Iskandar Syah atas mandat Syaikh Abdur Rauf dari kerajaan Pasai.

“Syaikh Iskandar Syah melakukan perjalanan dakwah dan tiba di Messia atau Mes kerajaan Patipi awal ketika itu bertemu dengan orang bernama Kris Kris,” katanya kepada Kiblat.net di kediamannya, Fakfak, Papua.

Baca jugaTernyata Islam Sudah Masuk Papua Sejak Tahun 1224 Masehi
Baca jugaKisah Pusaka Milik Suku di Papua yang Berumur Ratusan Tahun Ternyata Al-Qur'an

“Dan beliau (Syaikh Iskandar Syah;red) mengajarkan apabila kalian ingin selamat, ingin sejahtera, kalian harus mengenal alif lam lam ha (Allah), dan mim ha mim dal (Nabi Muhammad SAW) dan dilanjutkan dengan pembacaan syahadat,” tuturnya

Ahmad Iba juga mengatakan, Syaikh Iskandar Syah oleh bapak Kris kris tiga bulan kemudian dia diangkat menjadi imam pertama. Dan Kris Kris menjadi Raja Patipi awal. Namun, beberapa tahun kemudian di Messia terjadi tsunami dan melenyapkan masjid serta beberapa warga sekitar.

“Dan beberapa tahun kemudian, terjadi tsunami maka seluruh Masjid dan isinya beserta penduduk sebagian ditelan bumi kecuali Kitab Al-Quran dan beberapa kitab fiqih, tauhid yang diselamatkan oleh Syaikh Iskandar Syah,” ujarnya.

Hingga saat ini Al-Quran dan beberapa kitab lain masih tersimpan di rumah Ahmad Iba. Meski sudah terlihat lusuh, ia tetap menjaganya dengan menaruh di lemari kaca.

“Saya pakai lemari kaca, kasih masuk. Baru kasih masuk obat. Supaya jaga tidak ada rayap makan,” ujarnya dengan logat Papua.

Raja Patipi ke XVI, H. Ahmad Iba (berpeci putih) menunjukkan Al-Qur’an kuno di rumahnya di Fakfak, Papua. (Foto: Taufik)

Selain itu, dai asal Papua, Ustadz Fadlan Garamatan menegaskan bahwa adanya Al-Quran yang sudah berumur ratusan tahun itu menunjukkan adanya Islam di Papua. Namun, karena kekurangan dai, sehingga berita tersebut tidak tersebar luas.

“Ini bukti autentik yang menunjukkan pada dunia dan bangsa Indonesia bahwa Islam itu berada di Nuu waar (Papua). Tetapi karena kurangnya dai, kurang guru seakan di negeri itu tidak ada Islam. Alhamdulillah, AFKN bagian daripada dakwah terus melanjutkan sampai Allah membuka tabir baru bagi perjalanan dakwah di negeri ini,” tuturnya. []

Baca juga500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua (Bagian 1)
Baca juga500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua (Bagian 2)

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Salem
Publikasi oleh Kiblat.net

Selasa, 20 Maret 2018

500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua (Bagian 2)

500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua (Bagian 2)

View Article

Penyebaran Islam kemudian juga disebarluaskan ke berbagai wilayah pesisir Papua Barat, seperti Kokas, Kaimana, Namatota, Kayu Merah, Aiduma dan Lakahia oleh para pedagang Muslim seperti dari Bugis, Buton, Ternate dan Tidore. Kehadiran orang Buton diperkuat dengan kesaksian Luis Vaes de Torres di tahun 1606. Ia menyebutkan di daerah pesisir Onin (Fakfak) telah menetap orang Pouton (Buton) yang berdagang dan menyebarkan agama Islam.

Syi’ar Islam di Papua menjadi lebih mudah karena kesamaan budaya dan bahasa. Bahasa yang dipakai tergolong bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia, seperti bahasa di Bacan dan Sula (bahasa Biak di Raja Ampat; Tobelo dan bahasa Onin di Fakfak dan Seram; maupun bahasa non Austronesia seperti di Ternate; Tidore dan Jailolo karena masuk golongan Bahasa Halmahera Utara, yaitu bahasa Galela). Bahasa Onin telah lama digunakan sebagai lingua franca yang berguna sebagai bahasa untuk perdagangan dan penyebaran agama Islam. Bahasa ini dipakai oleh kalangan pedagang dan elit (pemimpin masyarakat) yang terdapat di pesisir pantai selatan ‘Kepala Burung’ dan Semenanjung Bomberey (Fakfak dan Kaimana).

Kemudahan komunikasi dengan para pemimpin masyarakat Papua, yang kemudian memeluk Islam, mendorong berdirinya kerajaan-kerajaan (Petuanan) otonom di bawah Kesultanan Tidore. Kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini terdapat di Raja Ampat (Kolano Fat), yang tetap terpatri hingga kini sebagai identitas Pulau Papua. Kerajaan di Raja Ampat terdiri dari Kerajaan Waigeo (yang berpusat di Weweyai), Kerajaan Salawati (berpusat di Sailolof), Kerajaan Misool (berpusat di Lilinta) dan Kerajaan Batanta.

Kerajaan-kerajaan ini berdiri dengan perangkatnya masing-masing, yang diberi gelar oleh Kesultanan Tidore, sebagai imbal atas upeti kerajaaan tersebut kepada Kesultanan Tidore.[ Masa Kuasa Belanda di Papua: 1898-1962, Rosmaida Sinaga. 2013. Depok: Komunitas Bambu]

Di wilayah Fakfak dan Kaimana kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini terbagi menjadi sembilan, yaitu Petuanan Namatota, Komisi, Fatagar, Ati-ati, Rumbati, Pattipi, Sekar, Wertuar dan Arguni. Pengaruh Kesultanan Tidore di Kerajaan Wertuar misalnya, dapat dilihat dari pelantikan Raja Wertuar VII yang dilakukan oleh Sultan Tidore, Muhammad Tahir Alting pada tahun 1886. Sedangkan di Kampung Ugar, Fakfak, terdapat dokumen silsilah Raja-Raja Ugar beraksara Arab, yang tertulis tahun 1929 M.

Pengaruh Islam kepada masyarakat papua dapat diperkirakan dengan melihat penerapan ajaran Islam yang terdapat di masyarakat Papua saat itu. Penerapan hukum Islam, misalnya, telah diterapkan masyarakat Pulau Misool, hinggak akhir masa kolonial Belanda. Di sana terdapat Hakim Syara’ yang bertugas mengurusi perihal perkawinan, kematian dan sholat berjamaa’ah. Kehadiran Masjid-masjid tua, seperti misalnya Masjid Tunasgain, yang diperkirakan dibangun sejak tahun 1587. Atau di Patimburak, yang diperkirakan sejak abad ke 19.

Kehadiran Masjid ini selain peninggalan fisiknya, dapat pula kita perkirakan kedudukannnya dalam masyarakat. Kehadiran Masjid sejak abad ke 16, menandakan sejak lama telah dilaksanakannya pendidikan Islam melalui khotbah Jum’at. Kehadiran Masjid bisa pula kita perkirakan berfungsi sebagai tempat pendidikan, meski dalam bentuk yang sederhana di masyarakat. Pola pendidikan sederhana ini dapat kita telusuri dengan ditemukannya kitab Barzanji, bertanggal 1622 M dalam bahasa Jawa Kuno dan teks khutbah Jum’at yang bertarikh 1319 M. Kehadiran kitab Barzanji, dapat kita perkirakan sebagai upaya untuk menumbuhkan tradisi Islam dalam masyarakat.

Pengaruh Islam lainnya dalam masyarakat, dapat dilihat dari nama-nama yang terdapat dalam masyarakat papua pribumi. Di desa Lapintol dan Beo, pada umumnya, kaum pria memakai nama-nama Arab seperti Idris, Hamid, Abdul Shomad, atau Saodah untuk perempuan.[21] Islam juga mengubah penampilan masyarakat. Jika di pedalaman Papua, masyarakat aslinya belum berpakaian, dan hanya menutup bagian vitalnya saja, maka di pesisir penduduk Papua keadaan sangat berbeda.

Tak dapat dipungkiri, Syiar Islam di Papua mengalami proses yang gradual. Masih dapat ditemukan Muslim Papua saat itu yang mempercayai kepercayaan Animisme atau kepercayaan lokal lainnya.

Proses penyebaran Islam melalui kepala suku atau pemimpin masyarakat, membuat syi’ar Islam sangat bergantung kepada kepedulian kepala suku tersebut. Syiar Islam di Papua sedikit banyak juga terpengaruh oleh dinamika yang terjadi di Maluku.

Pasang-surutnya kekuasaan Kesultanan Tidore mempengaruhi kehidupan yang terjadi di Papua. Kehadiran bangsa asing yang menjajah Maluku, seperti Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda berpengaruh besar terhadap kekuasaan Kesultanan Tidore dan Ternate. Kedudukan Kesultanan Tidore pada masa Sultan Saifuddin yang sebelumnya sejajar dengan Belanda, lama kelamaan mengalami masa surut.[ The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period, Leonard Y Andaya, Honolulu: University of Hawaii Press, 1993]

Konflik internal dan suksesi kepemimpinan di Kesultanan Tidore ikut menyeret Belanda ke dalam pusaran konflik. Pergantian kepemimpinan di Kesultanan Tidore lambat laun melibatkan campur tangan VOC (Belanda). Kesultanan Tidore dan Ternate yang saling bertikai, memaksa keduanya bertekuk di bawah VOC dan menjadi vasal VOC. Hal ini berdampak pada pengaruh Kesultanan Tidore di Papua. Kesultanan Tidore mulai kehilangan pengaruhnya di Papua terutama sejak abad ke 18.

Kondisi Kesultanan Tidore yang lemah, membuat seorang Pangeran Kesultanan Tidore, yaitu Pangeran Nuku memberontak terhadap kekuasaan Tidore. Pangeran Nuku kemudian menjadi simbol perlawanan terhadap VOC yang bersekutu dengan Sultan Tidore serta Ternate.Perlawanan Pangeran Nuku yang anti Belanda, menggerogoti kekuasaan Belanda di Maluku. Pangeran Nuku tidak saja mampu memperoleh dukungan dari orang-orang di Tidore, Ternate, Seram, dan juga Halmahera, tetapi ia terutama memperoleh dukungan dari orang-orang Papua terutama di Raja Ampat. Dukungan orang-orang Papua di Raja Ampat, membuatnya bergelar Sultan Papua II. Meneruskan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) yang bergelar Sultan Papua I.[ Cross-Cultural Alliance-Making and Local Resistance in Maluku during Revolt of Prince Nuku, c. 1780-1810, Muridan Satrio Widjojo, Leiden: Universitas Leiden, 2002]

Kekuatan pasukan Pangeran Nuku begitu hebat, terutama saat ia bersekutu dengan Inggris untuk memerangi VOC. Yang menarik, Pangeran Nuku juga disebutkan didukung oleh ulama dan tokoh haji berpengaruh, yaitu Haji Umar. Ambisi Pangeran Nuku untuk membebaskan dan memunculkan kembali empat Kesultanan Maluku memang tak tercapai. Namun ia berhasil membebaskan Kesultanan Tidore dari pengaruh Belanda. Hingga ia wafat (1805), Kesultanan Tidore mampu berdiri tanpa pengaruh Belanda. Namun Semenjak ia wafat, Kesultanan Tidore tak mampu lagi mempertahankan kemerdekaannya. Belanda kembali menguasai Kesultanan Tidore.

Masuknya kembali pengaruh Belanda ke Kesultanan Tidore membawa pengaruh besar di Papua. Belanda akhirnya terjun langsung ke bumi Papua, untuk menegakkan kekuasaannya. Motivasi Belanda menguasai langsung Papua setidaknya terdapat lima motif, (1) Belanda hendak mencegah intervensi asing seperti Inggris ke wilayah Papua. (2) Belanda juga berhasrat untuk melindungi kekuasaannya di Maluku. (3) Belanda memiliki kepentingan ekonomi di Papua, terutama dari hasil produk hutan, laut dan eksplorasi agararia. (4) Melindungi Belanda dari perompak, yaitu Suku Tugeri (Marind-Anim) di Papua. (5) Belanda hendak mendukung penyebaran Kristen (Katolik dan Protestan) di Papua.

Belanda mendirikan benteng pertamanya di Papua, yaitu Benteng Du Bus. Dinamakan Benteng Du Bus, sebagai penghargaan terhadap Komisaris Jenderal Hindia Belanda, L.P.J. du Bus de Gesignies yang mengusulkan dibangunnya pos perdagangan di Papua (1826-1830). Belanda kemudian mengumumkan kepemlikan Raja Netherland atas seluruh wilayah Papua bagian barat, kecuali yang menjadi hak Sultan Tidore di Mansarij, Karandefur, Ambapura dan Umbarpon.[28] Meski Benteng Du Bus tak bertahan lama, namun hal ini menandakan berkuasanya Belanda di Papua secara langsung, setelah selama ini mereka ‘berkuasa’ melalui perantara Kesultanan Tidore. Namun pada kenyataannya Belanda mengalami kesulitan mengontrol Papua bagian barat, terutama pesisir bagian selatan. Di wilayah itu (Fakfak), masyarakat pribuminya beragama Islam, dan secara struktur kekuasaan berbentuk kerajaan (pertuanan) sehingga lebih dekat kepada pengaruh Tidore.

Di antara kelima motif Belanda di Papua, mungkin dukungan Belanda terhadap penyebaran Kristen Protestan dan Katolik di Papua, yang paling berpengaruh negatif terhadap syi’ar Islam di Papua. Belanda amat Kristenisasi di Papua. Kristenisasi di Papua di mulai sejak 5 Februari 1855 dengan kehadiran Carl Willem Ottow dan Johann Gottlob Geissler di Mansinam, Manokwari. Mereka berdualah yang kelak dijuliki ‘Rasul Papua’, dan tanggal kehadiran mereka kini diperingati setiap tanggal 5 Februari oleh Gereja Kristen Injili di Papua. Dengan mendukung Kristenisasi di Papua maka, Belanda mendapatkan justifikasi untuk menduduki Papua, menutupi motif utama mereka, mengeruk keuntungan dari tanah Papua.

Di Papua bagian barat, penyebaran Kristen (Zending) bersaing dengan Missi Katolik. Para zending dibantu oleh guru zending yang berasal dari Ambon dan Manado-Sanger. Sedangkan missionaris Katolik dibantu guru yang berasal dari Kei. Kehadiran zending dan missi di Papua bagian barat ini menjadikan penduduk pribumi Papua memeluk Katolik dan Kristen. Namun lain halnya dengan Papua bagian selatan. Di wilayah ini dikuasai missi Katolik, sebagai akibat dari kebijakan Asisten Residen Kroesen. Pada Agustus 1905, missi Katolik dimulai dengan kehadiran Pastor H. Nollen, Pastor P. Braun dan Bruder Roessel di Merauke. Mereka mulai memfokuskan pada kajian bahasa, mengajarkan membaca, berhitung dan menulis. Tahun 1921 missi Katolik mulai mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak Papua.

Di Papua wilayah tengah, lembaga zending Christian and Missionary Alliance membuka pos penginjilan mereka di Baliem. Missi Katolik juga turut serta di wilayah ini. Namun daya cakupan zending lebih luas dibandingkan lainnya. Bagaimanapun, pemerintah kolonial mendukung penuh penyebaran Kristen dan Katolik di Papua, hal ini bertolak belakang dengan sikap mereka terhadap syi’ar Islam di Papua. Tak ada dukungan, misalnya untuk anak-anak Muslim pribumi di Papua.

Syi’ar Islam sejak bercokolnya Belanda di Papua, lebih banyak bergantung kepada umat Islam itu sendiri. Tahun 1910, Haji Abdul Majid mulai mendirikan pendidikan Islam di Jayapura dan mendirikan sebuah masjid pertama di Jayapura. Ia pulalah yang menjadi imam masjid tersebut. Di Merauke, tahun 1908, seiring dibukanya perkebunan kapas, pemerintah Belanda mendatangkan orang-orang Jawa di wilayah tersebut. Anak-anak pendatang ini kemudian mempelajari agamanya dengan bantuan guru mengaji.

Tahun 1930, Tengku Bujang, seorang yang berstatus diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda (Digulis), tiba di Merauke dan memulai dakwahnya dengan membangun Masjid Sepadin. Di Masjid inilah ia memulai khotbah Jumat dengan bahasa Indonesia. Ia pula yang mempelopori Sholat Ied di lapangan. Di Merauke ia kemudian membentuk Muhammadiyah. Antara tahun 1933-1936 Muhammadiyah mengirimkan tiga orang mubaligh ke Papua, yaitu Ustadz Jais, Ustadz Asarar dan Ustadz M, Chatib.

Di Fakfak, Muslim Papua membentuk Kesatuan Islam Nieuw Guinea (KING), yang dipimpin oleh Raja Rumbati, yaitu Haji Ibrahim Bauw. Ia kemudian membuka sekolah Islam. Tahun 1933, bersama pembimbingnya, Daeng Umar, ia mendirikan Muhammadiyah Fakfak. Namun hal ini tak berlangsung lama, Haji Ibrahim ditangkap dan Daeng Umar diasingkan ke tempat lain. Tahun 1950, bahkan pekerja-pekerja Muslim yang ada di Jayapura dikembalikan secara besar-besaran ke luar Papua. Jayapura menjadi kosong dari penduduk Muslim. Masjid Jayapura pun dijadikan bar dan restoran.

Pemerintah Belanda memang beriskap diskriminatif terhadap Muslim di Papua. Buku-buku agama Islam sulit diperoleh, sehingga didatangkan dari Jawa atau daerah lainnya. Pemerintah Belanda, hanya mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak Muslim, yaitu Openbare Vervolg School (O.V.V.S), itupun dilakukan menjelang pengalihan kekuasaan Belanda pada Indonesia ditahun 1960an.

Syi’ar Islam di Papua semakin semarak sejak Papua bergabung dengan Indonesia. Pemerintah kemudian mendirikan berbagai sekolah, termasuk sekolah pendidikan Agama Islam di Papua. Syi’ar Islam kembali menguat sejak dibukanya program transmigrasi di era Orde Baru.[39] Muslim-Muslim yang hadir di Papua meneruskan kembali dakwah Islam di Papua yang telah dimulai setidaknya sejak 500 tahun yang lalu, ketika Islam menjadi agama pertama yang masuk ke Papua. Maka sungguh ironis jika umat Islam, yang telah hadir di Papua sejak 500 tahun yang lalu, diintimidasi dalam melaksanakan ibadah dan syi’ar agamanya. []



Oleh: Beggy Rizkiyansyah
Penulis Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)
Dipublikasikan pertama kali oleh Hidayatullah

Pranala luar:
1. https://uhamka.ac.id/khazanah-islam/jejak-sejarah-500-tahun-islam-di-papua
2. https://regional.kompas.com/read/2013/08/07/1703048/Menyusuri.Jejak.Penyebaran.Islam.di.Papua.
3. https://regional.kompas.com/read/2017/06/22/05590021/masjid.tertua.di.papua.dan.masuknya.islam.pada.1200
500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua (Bagian 1)

500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua (Bagian 1)

View Article
Haji Oea Saraka di Onin (Fakfak). Foto diambil antara tahun 1890-1900

Gema Takbir mengumandangkan kebesaran Allah di nusantara ternyata meluas, bahkan hingga ke Papua. Lautan luas, diterabas, ombak diterjang oleh Muslim untuk menyiarkan Islam ke penjuru nusantara. Di bumi Papua, kita dapat merasakan kehadiran dakwah Islam, bahkan sejak lima ratus tahun yang lalu.

Papua sendiri telah dikenal sejak lama. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, Papua disebut Janggi. Pelaut Portugis yang pernah singgah di Papua tahun 1526-1527 menyebutnya ‘Papua.’ Namun ada pula yang menyebutnya Isla de Oro (Island of Gold). Kemiripan fisik orang Papua dengan orang Afrika membuat pelaut Spanyol menyebutnya ‘Nieuw Guinea’, merujuk pada wilayah Guinea di Afrika Barat.[Rekonstruksi Sejarah Umat Islam di Tanah Papua. Disertasi tidak diterbitkan, Toni Victor M, Sekolah PascaSarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta 2008.]

Papua, mungkin juga berasal dari bahasa Melayu, pua-pua, yang berarti keriting. Istilah ini dipakai oleh William Mardsen tahun 1812, dan terdapat dalam salah satu kamus bahasa Melayu -Belanda karya Von der Wall tahun 1880, dengan kata ‘Papoewah’ yang berarti orang yang berambut keriting.[On the Origin of the Name Papua, J Sollewijn Gelpke. 1993BKI Vol 149 No: 2.Leiden]

Istilah Papua sendiri tampaknya berasal dari bahasa Tidore, Papo Ua, yang berarti tidak bergabung atau tidak bersatu. Maksudnya adalah wilayah luas dan tanah besar itu (Papua) tidak termasuk ke dalam induk kesultanan Tidore.

Berbagai sebutan untuk Papua menyiratkan pada kita, akan keragaman bangsa yang berinteraksi dengan orang-orang Papua. Salah satu bangsa yang diketahui berhubungan dagang dengan orang-orang Papua adalah pedagang Cina. Pertukaran barang seperti porselin dan tembikar terjadi diantara mereka. Bahkan di kalangan masyarakat Seruni, terdapat keturunan Cina. Hubungan lain tercipta antara Kerajaan Majapahit dengan orang-orang Papua. Terutama dengan penduduk Papua di Onin (Wwanin), Fakfak. Hubungan ini diketahui dari Syair Negarakertagama karya Empu Prapanca (1365M), dalam sebuah bait syair disebutkan kata Wwanin (Onin, Fakfak) dan Sran (Kowiai atau Kaimana).

Tak hanya dengan bangsa di Asia, para penjelajah Eropa juga telah mengunjungi Papua sejak abad ke 16. Tahun 1526, misalnya, Gubernur Portugal pertama di Maluku bernama Jorge de Menesez mengunjungi Pulau Waigeo (Raja Ampat). Tahun 1545, Kapten Ynigo Ortiz de Retez dari Spanyol mencapai sekitar Sarmi, di muara Sungai Mamberamo. Ia kemudian memberi nama pulau itu (Papua) Nueva Guinea.

Hubungan orang Papua, yaitu Raja Waigeo dengan orang Portugis bisa ditelusuri dari catatan perjalanan Miguel Roxo de Brito, yang menjelajah ke Raja Ampat tahun 1581. Dari catatan De Brito, tampaknya dapat kita simpulkan Raja Waigeo telah memeluk agama Islam.[ The Report of Miguel Roxo de Brito in His Voyage in 1581-1582 To the Raja Ampat, the MacClur Gulf and Seram, JHF Sollewijn Gelpke, BKI Vol 150 No: 1 Leiden, 1994]

Kontak-kontak orang-orang Papua dengan berbagai pihak tersebut biasanya sebatas perdagangan. Namun kontak orang-orang Papua dengan Muslimlah yang kemudian memberikan dampak yang berbeda. Kontak orang-orang Papua dengan Muslim tak hanya terbatas pada soal perdagangan, namun juga perubahan hidup mereka dengan memeluk Islam.

Syiar Islam di Bumi Papua terjadi terutama terkonsentrasi di wilayah Papua Barat, mulai dari Raja Ampat hingga Fakfak. Ada beberapa versi mengenai masuknya Islam di Papua. Kebanyakan sumber sejarah masuknya Islam di Papua berdasarkan sumber-sumber lisan masyarakat setempat. Versi Papua, misalnya, berdasarkan legenda di masyarakat setempat, khususnya di Fakfak. Versi ini menyebut Islam bukanlah dibawa dari luar seperti Tidore atau pedaganh Muslim, tetapi Papua sudah Islam sejak Pulau Papua diciptakan oleh Allah. Versi ini tentu saja tidak bisa diterima, namun secara tersirat versi ini menandakan Islam di Papua telah menjadi kepercayaan yang menyatu dengan masyarakat setempat.

Versi lain adalah versi Aceh. Versi ini berdasarkan sejarah lisan dari daerah Kokas (Fakfak) yang menyebutkan Syekh Abdurrauf dari Kesultanan Samudera Pasai mengirim Tuan Syekh Iskandar Syah untuk berdakwah di Nuu War (Papua) tahun 1224. Syekh Iskandar kala itu membawa beberapa kitab yakni mushaf Al Qur’an, kitab hadits, kitab tauhid dan kitab kumpulan doa. Ada pula manuskrip yang ditulis di atas pelepah kayu, mirip daun lontara. Beberapa manuskrip tersebut diyakini selamat hingga saat ini. Namun versi ini perlu dipertimbangkan kembali, mengingat btu nisan Sultan pertama Pasai, Malik As Shalih di Pasai berangka tahun 1297M. Artinya, abad ke 13 adalah masa-masa awal Kesultanan Samudera Pasai. Dakwah Kesultanan Samudera Pasai saat itu (abad ke 13) sepertinya masih terkonsentrasi di Sumatera, mengingat saat itu, wilayah-wilayah lain di Sumatera pun belum sepenuhnya memeluk Islam. Manuskrip warisan yang disimpan hingga kini, akan lebih baik jika diteliti secara filologi.

Menurut tradisi lisan lain di Fakfak, Islam disebarkan oleh mubaligh bernama Abdul Ghafar asal Aceh pada tahun 1360-1374 di Rumbati. Makam dan Masjid Rumbati menjadi peninggalannya. Namun informasi lain menyebut Abdul Ghafar datang ke Rumbati tahun 1502 M. Kemungkinan ini perlu ditinjau kembali, terutama dalam hal waktu masuknya Islam. Kemungkinan Abdul Ghafar datang pada abad ke 16, bersamaan dengan masa keemasan Kesultanan Ternate dan Tidore sebagai bandar jalur sutera dan meluaskan kekuasaannya dari Sulawesi hingga Papua.

Versi lain masuknya Islam di Papua adalah versi Arab. Versi ini menyebutkan Islam di Papua disebarkan oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al Qathan (Syekh Jubah Biru) dari Yaman , yang terjadi pada abad ke 16. Hal ini sesuai dengan adanya Masjid Tunasgain yang dibangun sekitar tahun 1587. Informasi lain menyebut Syekh Jubah Biru datang pada tahun 1420M.

Pendapat yang tampaknya lebih kuat mengenai masuknya Islam di Papua adalah datangnya Islam di Papua melalui Kesultanan Bacan (Maluku). Di Maluku terdapat empat Kesultanan, yaitu, Bacan, Jailolo, Ternate dan Tidore (Moloku Kie Raha atau Mamlakatul Mulukiyah). J.T. Collins, menyebutkan, berdasarkan kajian linguistik, Kesultanan Bacan adalah Kesultanan tertua di Maluku. Syiar Islam oleh Kesultanan Bacan disebarkan di wilayah Raja Ampat.

Terbentuknya Kolano Fat (Raja Ampat atau Raja Empat, dalam bahasa Melayu) di kepulauan Raja Ampat oleh Kesultanan Bacan, dapat dilihat dari nama-nama gelar di kepulauan tersebut; (1) Kaicil Patra War, bergelar Komalo Gurabesi (Kapita Gurabesi) di Pulau Waigeo, (2) Kaicil Patra War bergelar Kapas Lolo di Pulau Salawati. (3) Kaicil Patra Mustari bergelar Komalo Nagi di Misool, (4) Kaicil Boki Lima Tera bergelar Komalo Boki Sailia di Pulau Seram.Isitilah Kaicil adalah gelar anak laki-laki Sultan Maluku. Menariknya, nama Pulau Salawati menurut tutur lisan masyarakat setempat,, diambil dari kata Shalawat.

Ada beberapa nama tempat yang merupakan pemberian Sultan Bacan. Seperti Pulau Saunek Mounde (buang sauh di depan), Teminanbuan (tebing dan air terbuang), War Samdin (air sembahyang). War Zum-zum (penguasa atas sumur) dan lainnya. Nama-nama tersebut merupakan bukti-bukti peninggalan nama-nama tempat dan keturunan Raja Bacan yang menjadi Raja-raja Islam di Kepulauan Raja Ampat. Kemungkinan Kesultanan Bacan menyebarkan Islam di Papua sekitar pertengahan abad ke 15 dan kemudian abad ke 16, terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Raja Ampat, setelah para pemimpin-pemimpin Papua di Kepulauan tersebut mengunjungi Kesultanan Bacan tahun 1596.

Pendapat ini didukung pula oleh catatan sejarah Kesultanan Tidore ‘Museum Memorial Kesultanan Tidore Sinyine Malige’, yang menyebutkan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) melakukan ekspedisi ke Papua dengan satu armada kora-kora. Ekspedisi ini menyusuri Pulau Waieo, Batanta, Salawati, Misool di Kepulauan Raja Ampat. Di wilayah Misool, Sultan Ibnu Mansur yang sering disebut Sultan Papua I, mengangkat Kaicil Patra War, putra Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi. Kacili Patra War kemudian dinikahkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur, yaitu Boki Thayyibah. Dari penikahan inilah Kesultanan Tidore memperluas pengaruhnya hingga ke Raja Ampat bahkan hingga Biak.* (BERSAMBUNG)

Bagian II500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua (2)



Oleh: Beggy Rizkiyansyah
Penulis Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)
Dipublikasikan pertama kali oleh Hidayatullah

Pranala luar:
1. https://uhamka.ac.id/khazanah-islam/jejak-sejarah-500-tahun-islam-di-papua
2. https://regional.kompas.com/read/2013/08/07/1703048/Menyusuri.Jejak.Penyebaran.Islam.di.Papua.
3. https://regional.kompas.com/read/2017/06/22/05590021/masjid.tertua.di.papua.dan.masuknya.islam.pada.1200

Sabtu, 10 Maret 2018

Ini Penyebab WNI Keturunan di Yogya tak Bisa Punya Tanah

Ini Penyebab WNI Keturunan di Yogya tak Bisa Punya Tanah

View Article
Para pejuang melewati pertokoan milik warga keturunan Cina di Malioboro pada Desember 1947. (Foto: gahetna.nl)

Untuk kesekian kali, Hakim Pengadilan Negeri Yogyakarta menolak gugatan Handoko yang menggugat Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X dan pejabat Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) DIY lantaran menjalankan Instruksi Wakil Kepala Daerah DIY No. K.898/I/A/1975 tanggal 5 Maret 1975 tentang Penyeragaman Policy Pemberian Hak Atas Tanah kepada Seorang WNI Nonpribumi. Katanya, ini bentuk kebijakan paling diskriminatif di Indonesia, melarang WNI memiliki tanah di Yogyakarta.

Majelis yang diketuai Hendro Cokro Mukti menggagalkan gugatan Handoko, warga Yogyakarta keturunan Tionghoa, dan seorang pengacara, dalam sidang Selasa (20/02/2018) lalu. Sebelum gugatan ini, Handoko sudah pernah melakukan perlawanan hukum atas kebijakan diskriminatif tersebut, yakni melalui uji materi ke Mahkamah Agung pada 2015 dan menggugat ke PTUN Yogyakarta pada 2016.

Sederet nama yang pernah bermasalah dengan BPN DIY beretnis Tionghoa seperti Ong Ko Eng yang ramaidi  menjadi berita medio 2015. Nama lain Tan Susanto Tanuwijaya, R Wibisono, dan pada tahun 2001 H Budi Setyagraha dan Willie Sebastian. Gugatan Budi Setyagraha bahkan sampai ke Mahkamah Agung, juga tetap gagal. Mereka terus berusaha melakukan gugatan pelarangan kepemilikan Sertifikat Hak Milik (SHM) atas tanah, karena selama ini mereka hanya bisa memiliki surat Hak Guna Bangunan (HGB).

Kenapa pelarangan kepemilikan tanah di DIY oleh etnis Tionghoa terus berulang? Ada beberapa hal yang mungkin menjadi pertimbangan sebab keluarnya Instruksi Wakil Kepala Daerah DIY No. K.898/I/A/1975. Soalnya sampai sekarang, tidak ada pernyataan resmi dari pihak Keraton Yogyakarta, kenapa muncul surat tersebut.

Kemungkinan pertama, sejarah wilayah Kesultanan Yogyakarta pernah mengalami perang hebat melawan Belanda pada 1825-1830. Penjelasan Peter Carey tentang salah satu alasan “Perang Jawa” yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro adalah penghisapan ekonomi penduduk Kesultanan Yogyakarta oleh etnis Tionghoa lewat pajak jalan dan tenaga kerja sewa tanah. Makanya, di awal peperangan, pemukiman-pemukiman Tionghoa yang pertama di hancurkan.

Kemungkinan kedua, selama kekuasaan Belanda pasca tahun 1870, ketika kebijakan Politik Liberal diberlakukan, seperti yang dijelaskan Selo Soemarjan dalam buku Perubahan Sosial di Yogyakarta, sampai pertengahan abad ke-20, berdiri 17 perkebunan tebu Eropa di Yogyakarta. Mereka menggunakan tanah seluas 34.000 hektare atau 10 persen dari seluruh luas DIY sekarang. Tetapi 10 persen luas tanah mengambil lebih dari 80 persen dari seluruh lahan sawah subur Yogyakarta. Penguasaan sawah juga meliputi para petani pemilik lahan dengan status pekerja paksa tanpa dibayar.

Buku karta Sunano: Muslim Tionghoa di Yogyakarta

Sehingga sampai menjelang masuknya Jepang ke Indonesia, tanah subur tidak ada yang dimiliki keraton. Selama itu, rakyat dan Keraton DIY terus miskin, makanya terus muncul kerusuhan kecil di pinggiran desa di DIY.

Pemberontakan kecil dalam bentuk begal dan kecu banyak muncul di kawasan perkebunan tebu. Selain mereka merampok penduduk kaya, juga melakukan aksi bakar lahan tebu. Pembakaran tanaman tebu selama tahun 1918 bahkan terjadi sebanyak 151 kali. Gerakan protes buruh perkebunan tebu dilakukan oleh Tentara Buruh Adidarmo yang merupakan wadah organisasi buruh yang dipimpin oleh Raden Mas Suryopranoto

.Pada tahun 1918, ketika kebijakan land reform diberlakukan, keraton membagi tanah pada abdi dalem menjadi hak milik, bukan hak tinggal, ekonomi terus tumbuh. Lagi-lagi praktek bisnis Tionghoa tidak terbendung dengan modal besar, mereka perlahan bisa memiliki tanah.

Alasan ketiga yang sering menjadi dalih BPN DIY adalah adanya “Prasasti Ngejaman”, sebagai bentuk permohonan perlindungan etnis Tionghoa pada Sri Sultan HB IX pada masa revolusi kemerdekaan, saat etnis Tionghoa menginginkan mengungsi, Sri Sultan HB IX memberi pilihan “mau tetap tinggal di Yogyakarta atau mengungsi, dan selanjutnya tidak akan pernah ada lagi etnis Tionghoa yang akan diizinkan tinggal di Yogyakarta”.

Krisis hubungan etnis Tionghoa dengan Sri Sultan ini berakhir setelah etnis Tionghoa memilih tinggal di Yogyakarta. Atas jaminan Sri Sultan, selama masa revolusi tidak ada satu pun rumah etnis Tionghoa menjadi korban. Setelah selesai Agresi Belanda II, secara simbolik etnis Tionghoa menghadiahkan jam yang diletakkan di sebelah barat keraton sebagai simbol ucapan terimakasih.

Kemungkinan alasan keempat, Sri Sultan HB IX dalam kedudukannya sebagai kepala daerah dan raja, mengambil peranan sebagai wiraswasta. Semua asset bisnis milik Belanda di ambil alih dan dihidupkan lagi. Sektor ekonomi berbasis pertanian, seperti tebu, kopra dan tembakau dikelola menggunakan prinsip koperasi. Sederet perusahaan keraton, dari Pabrik Gula Madukismo, Pabrik Tembakau, Perhotelan, Mall, dan lain sebagainya.

Secara perlahan Sri Sultan juga mendirikan usaha di luar kota, seperti Jakarta, Surabaya dan mendirikan bank.

Asset tanah DIY harus dilindungi untuk menopang sektor ekonomi pertanian. Sebagai pengusaha, kebijakan politik diperlukan agar asset utama dalam bisnis tidak dimiliki orang lain, yaitu tanah. Kebijakan politiknya dengan mengeluarkan Instruksi Wakil Kepala Daerah DIY No. K.898/I/A/1975. []


Oleh: Sunano
Penulis buku: "Muslim Tionghoa di Yogyakarta."
Dipublikasikan pertama kali oleh Republika
KH Said Aqil: Cadar Bukan Perintah Agama

KH Said Aqil: Cadar Bukan Perintah Agama

View Article

Adanya kebijakan mengenai larangan penggunaan cadar bagi mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) memunculkan polemik di tengah masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj enggan berkomentar banyak terkait larangan penggunaan cadar tersebut.

"Itu urusan internal di UIN (Sunan Kalijaga). Kenapa saya ikut campur?" tanya Said Aqil di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (9/3).

Aqil menjelaskan cadar bukanlah perintah agama, melainkan sebuah budaya Arab. Ia mempersilakan serta tidak melarang siapa pun memakai cadar. Ia berpesan kepada mereka yang memakai cadar untuk tidak merasa paling Islam.

"Jangan merasa paling sempurna Islamnya. Kesempurnaan Islam dalam hati, akhlak, moral," katanya.

Menurutnya, kebijakan yang dibuat UIN Suka tidaklah salah. Sebab hal tersebut merupakan kewenangan internal kampus tersebut. "Punya wewenang ya sudah, urusan internal UIN," tegasnya.

Diketahui, sebelumnya, Rektorat Kampus UIN Suka menegaskan akan mengeluarkan mahasiswi yang tidak melepas cadar saat beraktivitas di kampus. Pihak UIN Suka juga telah melakukan pendataan jumlah mahasiswi yang mengenakan cadar.

Pihak kampus juga sudah membentuk tim konseling dan pendampingan kepada mahasiswi bercadar agar mereka mau melepas cadar saat berada di kampus UIN.

Mahasiswi bercadar akan mendapatkan pembinaan dari kampus melalui tujuh tahapan berbeda. Jika seluruh tahapan pembinaan telah dilampaui dan mahasiswi yang bersangkutan tidak mau melepas cadar, pihak UIN akan memecat mahasiswi itu. [Republika]

Jumat, 09 Maret 2018

Heboh! Beredar Video Sholawat Tidak Lazim, Netizen Lapor Polisi

Heboh! Beredar Video Sholawat Tidak Lazim, Netizen Lapor Polisi

View Article

Sebuah video menghebohkan netizen. Pasalnya, video itu diawali dengan membaca ayat perintah bersholawat. Namun setelahnya, ada yang aneh dengan lafaz sholawat yang diucapkan.

Ayat yang dibaca itu adalah:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)

Setelah membaca ayat tersebut (tanpa terjemah), kemudian mereka mulai membaca sholawat.

“Shallallah ‘ala merah putih, shallallah ‘ala Nahdlatul Ulama, shallallah ‘ala Banser, shallallah ‘ala Jokowi,” demikian bunyi sholawat tersebut.

Sontak sholawat tersebut menuai kecaman netizen. Sebagian menilai, video tersebut menista sholawat nabi.

“Penista solawat” kata Ahmad Subki Al-Bantani.

“Sebagai umat Nabi Muhamad ga ridho ane” kata Harpan Apang.

“Kakean wong keminter saiki, mereka berusaha menghancurkan Islam dari dalam” kata Isah.

Ada pula netizen yang mengajak melaporkan video tersebut ke pihak yang berwenang. Bahkan ada yang langsung melaporkan ke akun kepolisian.

“Laporkan!” kata Abdurrahman Assidiq.

“TMC Polda Metro Jaya pak lapor ada penistaan agama, saya ga follow divhumas polri,” kata Rama Dhan sembari men-tag TMC Polda Metro Jaya. []

Baca juga: Penghalang Ittiba', Kebodohan Terhadap Ajaran Agama

Kamis, 08 Maret 2018

Jumlah Pegawai Bank Terus Berkurang

Jumlah Pegawai Bank Terus Berkurang

View Article

Berdasarkan data pada laporan keuangan tahunan bank, jumlah pegawai bank pada 2017 setahun penuh mengalami penurunan jika dibandingkan periode 2016.

detikFinance menghimpun dari sejumlah bank antara lain PT Bank Danamon Indonesia Tbk secara bank only (tidak termasuk anak usaha), jumlah pegawai Danamon periode 2017 tercatat 16.811 orang jumlah ini berkurang 6.021 jika dibandingkan periode 2016 sebanyak 22.832. Jumlah 22.832 juga turun 4.391 orang jika dibandingkan periode 2015 sebanyak 27.223.

Namun secara konsolidasi (termasuk anak usaha Adira Finance, Adira Quantum dan Adira Insurance) jumlah pegawai tercatat 36.410 orang. Jumlah ini juga berkurang 7.609 dibandingkan periode 2016 sebanyak 44.019. Penurunan jumlah pegawai paling banyak terjadi di level staf dan officer. Namun level manager justru mengalami peningkatan.

Baca juga: Riba, Dosa Besar yang Menghancurkan

Selain Danamon, bank milik pemerintah yakni PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri) juga mengalami penurunan jumlah pegawai. Dari laporan keuangan tahunan, jumlah pegawai Bank Mandiri secara total tercatat 38.307 orang, berkurang 633 orang dibandingkan periode 2016 38.940.

Jumlah pegawai tetap Bank Mandiri tercatat 30.464 bertambah 440 orang dibandingkan periode 2016 sebanyak 30.034. Kemudian untuk pegawai kontrak periode 2017 tercatat 7.704, berkurang 990 orang dibandingkan periode 2016 8.694 orang. Sementara untuk pegawai trainee tercatat 136 orang.

Sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), memiliki jumlah pegawai 27.209, berkurang 975 orang dibandingkan periode 2016 sebanyak 28.184 orang. Jumlah pegawai tetap BNI tercatat 24.641, meningkat dibandingkan tahun 2016 sebanyak 24.270 orang. Sedangkan untuk jumlah pegawai kontrak tercatat 2.568, turun dibandingkan periode 2016 sebanyak 3.914 orang.

Baca juga: Terbelit Utang Riba Ratusan Juta, Bagaimana Cara Melunasinya?

Jumlah pegawai BNI yang termasuk kategori baby boomers tercatat 367 orang, untuk Gen X 10.768 orang dan Gen Y 16.074 orang.

Kemudian Maybank juga mengalami penurunan jumlah pegawai. Pada 2017 berdasarkan laporan keuangan unaudited, jumlah pegawai Maybank tercatat 6.727 orang, turun 181 orang dibandingkan 2016 sebanyak 6.908. Jumlah ini juga turun 513 orang dibanding periode 2015 sebanyak 7.421 orang. [detikFinance]

Rabu, 28 Februari 2018

MUI Tanggapi Jemaah Banser yang Kumandangkan Mars di Masjidil Haram

MUI Tanggapi Jemaah Banser yang Kumandangkan Mars di Masjidil Haram

View Article

Saat menjalankan ibadah umrah, Guntur Romli mengunggah video dengan lantunan "Yaa Lal Wathan". Politikus Partai Solidaritas Indonesia itu melantunkannya di sela-sela Sai (berjalan dan berlari-lari kecil pulang-pergi tujuh kali dari Safa ke Marwa dan sebaliknya) --salah satu rukum umrah dan Haji--.

"Selain bacaan-bacaan saat Sai, Jamaah Sorban (anSOR BANser) juga gelorakan Ya Lal Wathan...Indonesia biladi... Indonesia Negeriku... di Masjidil Haram Makkah," cuit Guntur Romli di akun Twitternya, Sabtu (24/2).

Gerakan Pemuda (GP) Ansor merupakan organisasi kepemudaan yang berafiliasi pada Nahdlatul Ulama (NU). Sementara Banser atau Barisan Ansor Serbaguna adalah badan otonom dari GP Ansor.

Video itu lantas mendapat respons prokontra. Beberapa pihak menilai ibadah yang dilakukan Guntur tidak sah.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Cholil Nafis berpendapat, lantunan itu sah-sah saja dilakukan. Sebab menurutnya, dalam menjalankan Sai, tidak ada kewajiban atau syarat bacaan tertentu.

"Yang penting melakukan jalan tujuh kali antara bukit Safa dan Marwa. Cuma yang lebih afdal dan sesuai dengan ibadah itu mengucap zikir dan doa serta tak mengganggu orang lain yang sedang beribadah dengan suara kerasnya," ujar Cholil dalam keterangan tertulis, Selasa (27/2).

Menurut Cholil, sebaiknya, dalam menjalankan ibadah umrah, dia mengimbau masyarakat untuk khusyuk, berzikir, dan menghindari banyak publikasi agar dijauhkan dari sifat pamer atau riya.

"Tidak ada larangan, cuma membaca syair itu tak pada tempatnya," tuturnya.

Dalam video itu, sejumlah jemaah lantang melantunkan "Yaa Lal Wathan" sembari mengepalkan tangan ke udara. Dikutip dari situs resmi NU, lantunan itu adalah lagu karya salah satu pendiri NU, KH. Wahab Hasbullah.

Guntur pun sudah angkat bicara terkait unggahannya itu. Di akun media sosial Facebook, Guntur menulis ulang pendapat KH. Asnawi Ridlwan, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail NU.

"Menggaungkan syiir 'Ya Lal Wathon' saat pelaksanaan sai adalah sebuah kebaikan dengan syarat tidak disuarakan dengan arogan hingga mengganggu yang lain. Karena cinta tanah air adalah kewajiban setiap muslimin," tulis Guntur.

Guntur juga menilai, saat ini ajaran cinta tanah air banyak yang tidak memahami. Menurutnya tidak mencintai NKRI beserta perangkatnya adalah perbuatan dosa.

"Maka diharuskan untuk segera bertaubat, terlebih saat ibadah sai," tutup Guntur. []


Writer Marcia Audita
Editor Indra Subagja
Dipublikasikan pertama kali oleh Kumparan
Putra Kesepuluh Ustadz Yazid Jawas Juara Hafalan Hadits Nabawi, Wakili Indonesia Tingkat Asia Pasifik

Putra Kesepuluh Ustadz Yazid Jawas Juara Hafalan Hadits Nabawi, Wakili Indonesia Tingkat Asia Pasifik

View Article

Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, pepatah ini pantas disebut sebagai gambaran keberhasilan Abdurrahman Jawas yang merupakan putra kesepuluh dari Ustadz Yazid Jawas, menjuarai lomba Hafalan Hadits Nabawi.

Abdurrahman Jawas berhasil meraih juara pada Musabaqah Hafalan Al Quran dan Hadits atau MHQH tahun 2018. Acara ini ditutup oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kamis (22/2/2018). Acara tahunan ini sudah berlangsung sejak 19 Februari 2018.

Seremonial penutupan MHQH ini berlangsung di Auditorium HM Rasjidi Gedung Kementerian Agama. Hadir sejumlah Duta Besar dari beberapa negara timur tengah, antara lain Arab Saudi, Dubes Bahrein, Irak, dan Lebanon.

Ada tiga orang yang meraih juara dalam Hafalan Hadits Nabawi, selain Abdurrahman Jawas, juga Muhammad Nasrullah dari Pesantren Modern Tahfidz Alquran Darussalam Lumajang, Jatim dan Muhammad Kamil Hakimi dari STDI Imam Syafi’I, Jember, Jatim.

Abdurrahman Jawas merupakan santri Ponpes Imam Bukhori, Karanganyar, Jateng. Ayahnya sudah tidak asing lagi, yakni Ustadz Yazid Jawas, juga dikenal sangat menonjol dalam kelimuan sejak usia mudanya.

Dikutip wikipedia, Ustadz Yazid Jawaz disebutkan telah mampu ‪‎menghafal‬ kitab Bulughul Maram karangan Ibnu Hajar Al 'Asqalani diluar kepala. Dia yang sempat berguru kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin di Unaizah, juga diizinkan mengikuti ‪kelas‬ khusus di majelis syaikh.

Sebagaimana dikisahkan oleh murid-murid Ustadz Yazid Jawas, bahwa Ustadz Yazid Jawas selalu meluangkan waktu minimal 2 sampai 4 jam setiap harinya atau bahkan lebih dari itu untuk membaca‬ kitab-kitab ilmu Islam yang bermanfaat.

Pada halaman Wikipedia juga disebutkan Ustadz Yazid pernah belajar dengan seorang profesor dari Arab Saudi yang bernama Prof Dr Syakh Abdurrazzaq, seorang dosen Universitas Jami’ah Al-Islamiyah Madinah. (Namun orang terdekat keluarga Ustadz Yazid mengoreksi catatan Wikipedia ini, bahwa Ustadz Yazid tidak pernah berguru kepada Prof Dr Syakh Abdurrazzaq).

Ustadz Yazid Jawas saat ini membina sebuah pondok pesantren di bilangan Dramaga, Bogor, yaitu pondok pesantren Minhajus Sunnah. Selain sibuk dengan aktifitas mengajar para santri di pondok, dia juga aktif menjadi narasumber di Radio Rodja dan mengisi pengajian rutin dan tabligh akbar di berbagai kota di Indonesia. Bahkan Ustadz Yazid Jawas mengisi pengajian di luar Indonesia, diantaranya pengajian tahunan bagi warga Muslim di Kobe, Jepang, dan juga beberapa kali mengadakan tabligh akbar di Malaysia.

Selain berdakwah lewat ceramah dan tabligh akbar, dia juga aktif menelurkan berbagai karya tulis Islami hingga sekarang. Karya tulis beliau -hafidzahullah- yang sudah menjadi rujukan umat muslim Indonesia yakni sebagai berikut:

-Buku "Prinsip Dasar Islam Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah", penerbit Pustaka At-Taqwa
-Buku "Jalan Kebahagiaan Keselamatan Keberkahan", penerbit Media Tarbiyah
-Buku "Jihad Dalam Syariat Islam dan Penerapannya di Masa Kini", penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i
-Buku "Waktumu Dihabiskan Untuk Apa?", penerbit Pustaka At-Taqwa
-Buku "Panduan Shalat Jum’at Keutamaan Adab", penerbit Pustaka At-Taqwa
-Buku "Sebaik-Baik Amal Adalah Shalat", penerbit Pustaka At-Taqwa
-Buku "Sifat Wudhu dan Shalat Nabi", penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i
-Buku "Syarah Aqidah Wasithiyah Prinsip Aswaja", penerbit Media Tarbiyah
-Buku "Istiqamah Konsekuen Konsisten Menetapi Jalan Ketaatan", penerbit Pustaka At-Taqwa
-Buku "Haramnya Darah Seorang Muslim", penerbit Media Tarbiyah
-Buku "Taubat Kewajiban Seumur Hidup", penerbit Media Tarbiyah
-Buku "Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah", penerbit Pustaka At-Taqwa
-Buku "Jihad Dalam Syari'at Islam", penerbit Pustaka At-Taqwa
-Buku "Panduan Keluarga Sakinah", penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i
-Buku "Ritual Sunnah Setahun", penerbit Media Tarbiyah
-Buku "Kiat-Kiat Islam Mengatasi Kemiskinan", penerbit Pustaka At-Taqwa
-Buku "Kupas Tuntas Memahami Kalimat Syahadat", penerbit Media Tarbiyah
-Buku "Fiqih Shalat Berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah", penerbit Media Tarbiyah
-Buku "Sifat Shalawat Nabi", penerbit Salwa Press
-Buku "Mulia Dengan Manhaj Salaf", penerbit Pustaka At-Taqwa
-Buku "Syarah Kitab Tauhid", penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i
-Buku "Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah", penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i
-Buku "Syarah Arba'in An Nawawi", penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i
-Buku "Hukum Lagu, Musik dan Nasyid", penerbit Pustaka At-Taqwa

Editor: Riki
Sumber: Datariau.com

Minggu, 04 Februari 2018

Siswa Penganiaya Guru di Sampang Dikenal Sebagai Pendekar

Siswa Penganiaya Guru di Sampang Dikenal Sebagai Pendekar

View Article

Pelaku penganiaya gurunya sendiri hingga meninggal dunia, HI (17) dikenal sebagai pendekar oleh teman-temannya. Siswa SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Jawa Timur ini memiliki ilmu bela diri sejak duduk di kelas X.

AM, salah satu teman sekelas pelaku mengatakan, pelaku belajar ilmu bela diri sejak masih duduk di bangku SMP. Bahkan pelajaran ilmu bela diri tersebut didalami sampai sekarang.

"Anaknya memang pendekar dan sudah lama belajarnya," kata AM kepada Kompas.com, saat ditemui di depan kantor Polres Sampang, Jumat (2/2/2018).

Sehari-hari, sambung AM, pelaku ketika diledeki teman-temannya selalu mengeluarkan jurus-jurus bela diri. Entah itu dilakukan secara reflek atau karena memang pengaruh ilmu bela diri yang dimiliki pelaku.

"Kalau disentuh sedikit badannya, biasanya reflek seperti orang mau pencak silat," imbuh AM.

Sementara itu, Kapolres Sampang, Ajun Komisaris Besar Polisi Budi Wardiman mengaku tidak tahu jika pelaku memiliki ilmu bela diri. Bisa saja foto-foto yang beredar karena aksi iseng. Budi sendiri belum melihat foto-foto aksi korban dalam ilmu bela diri.

"Kalau pelaku punya ilmu bela diri tentunya dibuktikan dengan tropi-tropi atau piagam penghargaan dalam sebuah kejuaraan," tuturnya.

Kakak kandung pelaku, Su'ud juga menepis tudingan bahwa adik bungsunya punya ilmu bela diri. Jika ada aksi dalam foto-foto yang sudah tersebar melalui media sosial, mungkin adiknya hanya senang mengoleksi kostum pencak silat.

"Setahu saya adik saya tak punya ilmu bela diri. Dia hanya senang olahraga futsal," ujar Su'ud.

Berita sebelumnya, siswa SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur, berinisial HI diamankan polisi setelah menganiaya gurunya, Ahmad Budi Cahyono, hingga meninggal dunia pada Kamis (1/2/2018). [kompas]

Bupati Sampang Minta Siswa Penganiaya Guru hingga Tewas Tak Dipenjara

Bupati Sampang Minta Siswa Penganiaya Guru hingga Tewas Tak Dipenjara

View Article

Bupati Sampang, Madura, Jawa Timur, Fadilah Budiono ikut berkomentar terkait peristiwa penganiayaan guru honorer SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Ahmad Budi Cahyono (26), yang dilakukan oleh muridnya HI (17) pada Kamis (1/2/2018) kemarin. Dalam peristiwa itu, Budi meninggal usai menjalani perawatan di rumah sakit.

Fadilah berharap peristiwa tersebut tidak terulang kembali di mana pun di Indonesia.

Menurut Fadilah, kasus ini harus mendapat perhatian dari semua pihak. Terutama pada penanganan hukumnya agar jangan sampai menimbulkan masalah baru. Fadilah mengusulkan agar pelaku direhabilitasi setelah menjalani proses hukum.

"Saya usul kepada polisi agar setelah penanganan kasusnya sudah selesai, pelakunya jangan dipenjara bersama dengan tahanan narapidana lainnya. Sebab akan berdampak buruk terhadap kejiawaan anak," katanya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (3/2/2018).

"Silakan polisi menegakkan aturan sesuai dengan undang-undang. Namun saya usul korban harus direhabilitasi," lanjut Fadilah.

Baca juga : Penganiayaan Guru oleh Siswa di Sampang, Begini Kronologinya...

Fadilah menambahkan, Pemkab Sampang sudah memiliki tempat khusus untuk penampungan anak-anak yang memiliki masalah psikologis dan anak yang terjerat kasus narkoba. Namun dalam kasus penganiayaan guru ini, Fadilah ingin tetap ada pendampingan dari dokter dan ahli psikologi serta dari pihak kepolisian.

"Alhamdulillah banyak anak nakal di Sampang berhasil ditangani setelah dilakukan rehabilitasi di tempat khusus yang kami buat. Harapan saya, pelaku penganiayaan juga ditempatkan di panti rehabilitasi tersebut dengan penjagaan dari polisi," katanya.

Baca juga : Siswa Penganiaya Guru di Sampang Dikenal sebagai Pendekar

Polres Sampang sudah menetapkan HI sebagai tersangka. Polisi menjerat pelaku dengan Pasal 351 ayat 3 KUHP dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara. Sebelum menetapkan pelaku sebagai tersangka, penyidik sudah memeriksa sembilan saksi dan mengumpulkan beberapa dokumen hasil pemeriksaan tubuh korban. Dokumen dimaksud baik dari Puskesmas Jrengik, RSUD Sampang maupun Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya. [kompas]