Tampilkan postingan dengan label Syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syiah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2018

Doktrin Aliran Syiah yang Paling Berbahaya (Bagian II―Tamat)

Doktrin Aliran Syiah yang Paling Berbahaya (Bagian II―Tamat)

View Article

Peringatan Ulama tentang Kedustaan Syiah

Memahami kenyataan prinsip taqiyah, para ulama kaum muslimin sejak masa silam telah mengingatkan penipuan mereka. Mereka menolak informasi dari syiah, karena memiliki sifat dasar: pembohong. Berikut pernyataan mereka,

1. Keterangan Imam Malik

Asyhab – ulama Malikiyah – mengatakan,

سئل مالك عن الرافضة ؟ قال لا نكلمهم ولا نروي عنهم فإنهم يكذبون

“Imam Malik ditanya tentang rafidhah (syiah). Jawaban beliau: “Kami tidak mau bicara dengan mereka, tidak meriwayatkan dari mereka, karena mereka suka berdusta.”

2. Keterangan Imam As-Syafii

Diriwayatkan oleh Harmalah – salah satu murid Imam As-Syafii –,

سمعت الشافعي يقول لم أر أشهد بالزور من الرافضة

“Saya mendengar As-Syafii mengatakan, ‘Saya belum pernah mengetahui ada kelompok yang paling mudah berdusta melebihi rafidhah (syiah).”

3. Yazid bin Harun Al-Wasithi – salah satu ulama tabi’ tabiin – mengatakan,

يكتب عن كل صاحب بدعة إذا لم يكن داعية إلا الرافضة فإنهم يكذبون

“Boleh ditulis semua hadis dari pelaku bid’ah, selama dia bukan tokohnya. Kecuali rafidhah, karena mereka suka berdusta.”

[Simak 3 keterangan di atas dalam An-Nukat ‘ala Muqadimah Ibnu Sholah, Az-Zarkasyi, 3/399 dan Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327].

4. Syarik bin Abdillah – seorang Qadhi Kufah di zaman Imam Abu Hanifah – mengatakan,

أحمل العلم عن كل من لقيت إلا الرافضة فإنهم يضعون الحديث ويتخذونه دينا

“Saya menimba ilmu (hadis) dari setiap orang yang saya jumpai, kecuali rafidhah (syiah). Karena mereka memalsu hadis dan menjadikannya sebagai aturan agama.” (Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327).

5. Bahkan hanya sebatas mencela sahabat, hadisnya sudah tidak boleh diterima, karena diduga syiah. Itulah kehati-hatian yang dilakukan Ibnul Mubarok – gurunya Imam Bukhari –, beliau mengatakan,

لا تحدثوا عن عمرو بن ثابت فإنه كان يسب السلف

“Janganlah kalian mengambil hadis dari Amr bin Tsabit. Karena dia melaknat para sahabat.” (Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327).

6. Syaikhul Islam mengatakan

وقد اتفق أهل العلم بالنقل والرواية والإسناد على أن الرافضة أكذب الطوائف والكذب فيهم قديم ولهذا كان أئمة الإسلام يعلمون امتيازهم بكثرة الكذب

“Para ulama sepakat, berdasarkan nukilan, riwayat, dan sanad, bahwa rafidhah (syiah) adalah kelompok paling pendusta. Dan dusta bagi mereka, ada sejak masa silam. Karena itu, para ulama islam mengenal ciri khas mereka dengan banyaknya berdusta.” Selanjutnya, Syaikhul Islam menyebutkan beberapa riwayat di atas. (Minhaj As-Sunah An-Nabawiyah, 1/59).

7. Keterangan lainnya dari Ibnu Hazm, dalam karyanya tentang firqah dan kelompok-kelompok yang menisbahkan dirinya kepada islam,

… إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة …وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر

Rafidhah (syiah) adalah kelompok yang pertama kali muncul 25 tahun setelah meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan itulah kelompok yang sangat persis denga Yahudi dan Nasrani dalam hal berdusta dan melakukan kekufuran. (Al-Fashl fi Al-Milal wa Al-Ahwa wa An-Nihal, Ibnu Hazm, 1/176).

Atas Nama Ahlul Bait

Selanjutnya anda bisa menilai klaim mereka sebagai pengikut ahlul bait. Anda bisa menilai kebenaran pengakuan mereka sebagai pemilik riwayat dari Ahlul Bait.

1. Mungkinkah ahlul bait mengajarkan kawin kontrak (nikah mut’ah) yang sama sekali tidak berbeda dengan zina?

Sebagai referensi penilaian, anda bisa simak aturan nikah mut’ah dan tarifnya di Iran:

Nikah Mut’ah Ajaran Syiah
Tarif Nikah Mut’ah di Iran
Keajaiban Dunia yang Hanya Ada di Iran

2. Mungkikah ahlul bait mengajarkan kaum muslimin untuk melaknat Abu Bakar, Umar, Utsman, A’isyah, dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya?

Sebagai referensi penilaian, anda bisa pelajari:


3. Mungkinkah ahlul bait mengajarkan doktrin bahwa Al-Quran telah berubah? Mungkinkah mereka masih menyimpan Al-Quran, dan tidak diajarkan kepada kaum muslimin yang lainnya dan hanya dimiliki syiah.

Sebagai referensi, anda bisa pelajari, Ajaran Syiah

4. Mungkinkah ahlu bait mengajarkan kultus kepada para Imam, dan orang shaleh. Sampai memposisikan mereka layaknya Tuhan.

Sebagai referensi, anda bisa pelajari, Hakikat Ajaran Syiah

5. Dan mungkinkah ahlul bait mengajarkan umat untuk rajin berdusta?? Sehebat apapun penipu, dia tidak akan pernah mau ditipu.

Masih ada segudang keyakinan aneh syiah, yang dia klaim sebagai ajaran ahlul bait. Anda bisa pelajari di:

― www.hakekat.com
― www.syiahindonesia.com
― atau klik kumpulan artikel tentang Syiah disini atau disini

Penjelasan Syiah lebih Ilmiah?

Karena itu, sungguh aneh ketika ada orang yang menjadikan keterangan syiah sebagai referensi yang dihargai. Bagaimana mungkin, pendusta dan pembohong bisa menjadi rujukan dalam informasi. Terlebih di saat musim ketegangan antara kaum muslimin dan kelompok syiah.

Lebih menyedihkan lagi, ketika ada orang yang tertipu dan menganggap keterangan tokoh syiah lebih ilmiah. Anda boleh geleng kepala… bohong, dianggap ilmiah. Sayangnya, mereka yang tertipu dengan kebohongan syiah kebanyakan dari kalangan civitas akademik universitas-universitas ‘islam’ (dalam tanda kutip) di Indonesia.

Sebagai contoh, anda bisa saksikan, bagaimana upaya pembelaan mereka terhadap kekejaman pemerintahan Basyar, yang membantai kaum muslimin Suriah.

Beberapa klaim yang sering kita dengar, yang mengunggulkan syiah,

1. Syiah penganut ahlul bait
2. Sunni mendapat riwayat dari sahabat, dan syiah mendapat riwayat dari ahlul bait
3. Iran musuh besar Amerika & Zionis Yahudi
4. Iran memiliki bom nuklir yang membuat Amerika & Zionis Yahudi gentar
5. Iran & Syiah, musuh barat – pembebas palestina
6. Iran negera islam makmur & berperadaban
7. Iran pemimpin peradaban islam dunia
8. Perjuangan sang revolusioner ayatollah Khumaini
9. Ahmadi Nejad, pemimpin muslimin dunia yang rendah hati
10. Al-Quran kita sama

Dan sejuta klaim lainnya. Namun sayang, banyak orang yang rela untuk jadi korban kedustaan mereka. Semoga kita tidak termasuk…

Kang Jalal Berdusta
Jika anda mendengar kalimat ini maka benarkanlah. Tokoh sentral syiah indonesia ini, sering sekali menukil dalil atau keterangan ulama dengan cara serampangan. Tidak lain, dalam rangka mengelabuhi masyarakat tentang hakekat syiah. Sekalipun harus memlintir ayat Al-Quran atau hadis, atau keterangan ulama. Yang penting, syiah menang.

Anda bisa simak beritanya di:

― Jalaludin Rakhmat Hina MUI dengan Memelintir Ucapan Imam Malik Ahmad dan Syafi’i
― Kisah Ganjil Syiah

Sudah saatnya anda buang jauh-jauh citra orang ini, agar anda tidak termasuk korban penipuannya.

Buku-buku Syiah

Pernahkah anda mendapatkan buku syiah dijual bebas di pasaran? Pernahkah anda membeli referensi asli syiah beredar di toko-toko buku? Bagian ini yang mungkin sering kita lupakan. Mengapa mereka begitu merahasiakan buku-buku dan referensi asli mereka? Informasi dari beberapa rekan yang ingin mencari fakta, merasa kesulitan untuk mendapatkan buku asli karya ulama-ulama syiah Iran. Itulah sikap eksklusif Iran. Dia jauh lebih tertutup dibandingkan Amerika. Seolah, pemerintah Iran berusaha menutup rapat, jangan sampai kaum muslimin dunia mempelajari aqidah, doktrin dan ajaran Syiah Iran. Kecuali jika kita telah menjadi syiah. Kita bisa dengan mudah mendapatkan referensi asli mereka. Tapi sekali lagi…, jika otak kita sudah terinstal program syiah.

Ini berbeda dengan Saudi. Pemerintah Saudi sangat gencar menyebarkan buku-buku gratis ajaran islam yang didakwahkan di Saudi kepada umumnya masyarakat. Mereka begitu terbuka di hadapan kaum muslimin. Seolah Saudi ingin berteriak kepada kaum muslimin, silahkan pelajari seluruh aqidah, doktrin dan ajaran kami. Dan silahkan memberikan penilaian, apakah ajaran kami sesat ataukah sesuai Al-Quran dan sunah. Anda bisa menilai, jika memang prinsip beragama yang diajarkan oleh pemerintah Saudi itu sesat, mereka akan berusaha merahasiakannya, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Iran terhadap ajaran Syiah.

Buka Kedok dengan Referensi Asli

Karena itu, ketika seseorang hendak debat dengan syiah, dia wajib mempelajari buku-buku syiah. Referansi asli yang ditulis oleh tangan-tangan tokoh syiah. Tanpa ini, dia hanya akan menjadi bahan tipuan orang syiah yang menjadi lawan debatnya. Sebagaimana yang pernah terjadi pada salah satu dai di Jogja, hingga akhirnya dia mengikuti Syiah.

Dengan buku asli, ketahuan kedoknya. Di situlah syiah tidak bisa mengelak. Mereka tidak bisa mengelabuhi. Karena wajah asli syiah, ada dalam karya tokoh aliran sesat ini. Sekalipun sejuta kemunafikan untuk menutupi dirinya, dia tidak akan bisa mengelak jika ditunjukkan ucapan tokohnya.

Sungguh betapa capeknya dakwah melawan syiah. Karena doktrin yang paling berbahaya yang mereka miliki: taqiyah, yang hakekatnya adalah kemunafikan. Semoga Allah melindungi kita dari kelompok munafik, yang menjadi musuh dalam selimut bagi kaum muslimin ini.

Allahu a’lam. []


Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com
Artikel oleh KonsultasiSyariah
Doktrin Aliran Syiah yang Paling Berbahaya (Bagian I)

Doktrin Aliran Syiah yang Paling Berbahaya (Bagian I)

View Article

Salah satu diantara aqidah syiah yang paling berbahaya adalah doktrin taqiyah. Taqiyah dalam ajaran syiah adalah upaya berbohong dalam rangka menyembunyikan jati diri ketika dalam kondisi Syiah minoritas. Baik untuk tujuan menjaga diri dari gangguan luar atau untuk menimbulkan kesamaran di tengah masyarakat tentag hakekat syiah atau untuk menyudutkan lawan syiah.

Taqiyah dilakukan dengan cara menampakkan sesuatu berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya. Ungkapan lainnya artinya nifaq dan menipu, sebagai usaha mengelabui atau mengecoh manusia. Dengan bahasa yang lebih ringkas, taqiyah hakikatnya adalah berdusta. [Simak keterangan Muhammad Jawad Mughniyah, dalam bukunya As-Syiah fil Mizan]

Taqiyah, Rukun Penting dalam Agama Syiah

Taqiyah menjadi ajaran penting dalam agama Syi’ah. Para tokoh syiah membuat berbagai riwayat dusta atas nama ahlul bait, untuk memotivasi umat Syiah agar melakukan taqiyah. Taqiyah mereka jadikan prinsip hidup yang tidak terpisahkan dalam ajaran syiah. Berikut beberapa riwayat dusta atas nama ahlul bait, tentang pentingnya Taqiyah,

Pertama, taqiyah bagian dari agama

Keterangan Al-Kulaini, tokoh syiah ini meriwayatkan dari Ja’far As-Shadiq,

التقية من ديني ودين آبائي ولا إيمان لمن لا تقية له

“Taqiyah bagian dari agamaku dan agama bapak-bapakku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.”

Dia juga meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far,

إن تسعة أعشار الدين في التقية , ولا دين لمن لا تقية له

“Sesungguhnya sembilan persepuluh (90%) bagian agama adalah taqiyah. Tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.” [Ushul Al-Kafi 2/217, Biharul Anwar 75/423, dan Wasail Syiah 11/460].

Kedua, taqiyah merupakan akhlak paling mulia

Keterangan At-Thusi. Dalam bukunya Al-Amali, dia meriwayatkan dari Ja’far,

ليس منا من لم يلزم التقية , ويصوننا عن سفلة الرعية

“Bukan bagian dariku, orang yang tidak menekuni taqiyah, dan tidak melindungi kami dari rakyat jelata.”

Kemudian dalam Al-Ushul Al-Ashliyah, At-Thusi juga meriwayatkan dari Imam Al-Baqir, bahwa beliau ditanya, ‘Siapakah manusia yang paling sempurna?’ Jawab Imam Al-Baqir,

أعلمهم بالتقية … وأقضاهم لحقوق إخوانه

“Orang yang paling tahu tentang taqiyah.. dan yang paling sempurna dalam menunaikan hak saudaranya.”

Juga diriwayatkan dari Al-Baqir,

أشرف أخلاق الأئمة والفاضلين من شيعتنا استعمال التقية

“Akhlak paling mulia dari para imam dan orang-orang penting dari kelompok kami adalah melakukan taqiyah.”

Kemudian, dalam kitab Al-Mahasin, dari Habib bin Basyir, dari Abu Abdillah,

لا والله ما على الأرض شيء أحب إلي من التقية، يا حبيب إنه من له تقية رفعه الله يا حبيب من لم يكن له تقية وضعه الله

“Demi Allah, tidak ada di muka bumi ini, sesuatu yang lebih aku cintai melebihi taqiyah. Wahai Habib, orang yang melakukan taqiyah, Allah akan angkat derajatnya. Wahai Habib, siapa yang tidak melakukan taqiyah, akan Allah rendahkan.”

Ketiga, taqiyah hukumnya wajib, meninggalkan taqiyah = meninggalkan shalat

Tokoh Syiah Ibnu Babawaih mengatakan,

اعتقادنا في التقية أنها واجبة من تركها بمنزلة من ترك الصلاة

“Keyakinan kami tentang taqiyah, bahwa taqiyah itu wajib. Siapa yang meninggalkan taqiyah, seperti orang yang meninggalkan shalat.” (Al-I’tiqadat, hlm. 114).

Untuk mendukung keterangannya, dia tidak malu untuk berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menyantumkan hadis palsu,

تارك التقية كتارك الصلاة

“Orang yang meninggalkan taqiyah, sama dengan orang yang meninggalkan shalat.” [Simak Jami’ Al-Akhbar, hlm. 110 dan Bihar Al-Anwar, 75/412]

Ketika Bohong Menjadi Prinsip Agama

Apa yang bisa anda simpulkan, ketika bohong kebiasaan hidup seseorang atau menjadi prinsip hidup seseorang. Anda tentu yakin, orang ini akan selalu diwaspadai oleh rekan dan lingkungannya. Karena dia bisa menipu siapapun, kapanpun dan di manapun.

Bagi syiah, taqiyah (baca: berbohong) tidak semata menjadi prinsip hidup. Lebih dari itu, mereka meyakini, taqiyah merupakan amal sholeh yang menjadi sumber pahala. Berbohong demi syiah mereka anggap sebagai amal ibadah mulia yang akan meningkatkan derajatnya.

Mereka bisa memiliki 1000 wajah untuk mengelabuhi masyarakat tentang siapakah sejatinya syiah. Mereka bisa berdusta dan berbohong, kapanpun dan dimanapun, demi pencitraan syiah. Mereka bisa berbohong untuk membangun opini positif di mata publik tentang Iran. Mereka tidak segan berdusta, untuk menarik simpati kaum muslimin terhadap syiah. Mereka bisa berdusta untuk menciptakan kesan, syiah adalah kelompok minoritas yang tertindas. Mereka juga tidak segan berdusta, menampakkan perlawanan terhadap Zionis yahudi di mata dunia, meskipun sejatinya mereka sendiri seperti yahudi.

Siapa sasarannya?

Tentu saja bukan kepada sesama syiah. Bohong ini mereka arahkan kepada kelompok yang mereka anggap sebagai musuh besar syiah, yaitu kaum muslimin ahlus sunnah wal jamaah. Kami, anda, dan seluruh kaum muslimin yang bukan syiah adalah sasaran utama kebohongan taqiyah itu.

Itulah yang menjadi landasan Khomaini untuk memobilisasi masa. Dia menekankan kepada para pengikutnya, kaum muslimin selain syiah sama sekali tidak memiliki kehormatan, layaknya orang kafir. Menipu mereka atau bahkan menumpahkan darah mereka adalah tindakan mulia yang layak dilakukan semua orang syiah.

Dalam bukunya Al-Makasib Al-Muharramah, Khomaini mengatakan,

فلا شبهة في عدم احترامهم، بل هو من ضروري المذهب كما قال المحققون، بل الناظر في الأخبار الكثيرة في الأبواب المتفرقة لا يرتاب في جواز هتكهم والوقيعة فيهم، بل الأئمة المعصومون أكثروا في الطعن واللعن عليهم، وذكر مساويهم… والظاهر منها جواز الافتراء والقذف عليهم.

“Tidak ada lagi keraguan, bahwa mereka (ahlus sunah), tidak memiliki kehormatan. Bahkan itu bagian prinsip penting dalam madzhab syiah, sebagaimana yang disampaikan ulama. Orang yang mempelajari berbagai riwayat yang banyak dalam berbagai kajian yang berbeda, tidak akan ragu tentang bolehnya merusak mereka dan menyakiti mereka. Bahkan para imam maksum, sangat sering mencela, melaknat, serta menghina mereka (ahlus sunah)….dan yang zahir, boleh membuat kedustaan dan melemparkan kedustaan kepada mereka” [Al-Makasib Al-Muharramah, Al-Khumaini, Muassasah Ismailiyan, cet. Ketiga, 1410 H. Jilid 1, hlm. 251 – 252].

Hal yang sama juga disampaikan Al-Khou’i – salah satu tokoh syiah yang sangat membenci ahlus sunah – ,

… وأما هجو المخالفين أو المبدعين في الدين فلا شبهة في جوازه؛ لأنه قد تقدم في مبحث الغيبة، أن المراد بالمؤمن هو القائل بإمرة الإثني عشر (عليهم السلام)، … ومن الواضح أن ما دل على حرمة الهجو مختص بالمؤمن من الشيعة، فيخرج غيرهم عن حدود حرمة الهجو موضوعاً…. أنه قد تقتضي المصلحة الملزمة جواز بهتهم والإزراء عليهم، وذكرهم بما ليس فيهم افتضاحاً لهم، والمصلحة في ذلك استبانة شؤونهم لضعفاء المؤمنين، حتى لا يغتروا بآرائهم الخبيثة

“Menghina kaum yang menyimpang atau para pelaku bid’ah dalam agama (ahlus sunah), tidak samarnya, hukumnya boleh. Sebagaimana pembahasan ghibah yang telah lewat, bahwa yang dimaksud orang mukmin adalah mereka yang mengikuti prinsip kepemimpinan imam dua belas ‘alaihimus salam,… dan sangat jelas, dalil yang menunjukkan larangan menghina, hanya tertuju kepada orang syiah yang beriman. Sehingga tidak termasuk selain syiah, mereka di luar batas larangan penghinaan.… Berdasarkan tuntutan kemaslahatan yang kuat, boleh memfitnah mereka, melemparkan kedustaan kepada mereka, menyebutkan kesalahan yang tidak mereka lakukan, untuk mempermalukan mereka. Bentuk maslahat dalam hal ini adalah membeberkan keadaan buruk mereka, mengingat kaum muskminin (baca: Syiah) masih lemah. Sehingga syiah yang lemah iman ini tidak tertipu dengan pemikiran buruk mereka…” [Misbah Al-Faqahah, Al-Khou’i, penerbit Al-Ilmiah, Qom, cet. Pertama, jilid 1, hlm. 700 – 701].

Allahul musta’an, seperti itulah kebencian mereka terhadap kaum muslimin. Berlindunglah kepada Allah, agar anda tidak menjadi salah satu korban kekejaman mereka. [Bersambung...]

Berlanjut: Doktrin Aliran Syiah yang Paling Berbahaya (Bagian II-Tamat)


Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com
Artikel oleh KonsultasiSyariah
Perayaan Asyuro Syiah di Solo Dibubarkan Warga

Perayaan Asyuro Syiah di Solo Dibubarkan Warga

View Article

Kegiatan perayaan Asyura Syiah pada Kamis (20/09/2018) di rumah mendiang Syegaf Bin Husain Al Jufri di Mertodranan, Pasar Kliwon, Semanggi dibatalkan setelah mendapat penolakan dari sejumlah elemen umat Islam warga Solo.

Sebelumnya, beberapa pengurus dari Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) mendapat laporan dari warga terkait akan adanya ritual aliran Syiah tersebut.

Warga merasa resah karena dalam kegiatan yang mendatangkan peserta dengan pakaian serba hitam, dan dicurigai para peserta akan meratapi kematian cucu Rasulullah Husain dengan cara menyiksa diri hingga berdarah dan juga mencaci-maki dan melaknat para sahabat dan istri-istri Rasulullah.

ZN salah satu warga sekitar mengatakan kalau acara tersebut sudah berlangsung sejak lama. Ia juga mengaku resah dengan keberadaan kegiatan tersebut.

“Dari dulu emang udah tau kalau ada kegiatan itu, kakak saya dulu juga pernah direkrut makanya saya juga nggak suka, wong saya juga belajar dari situ Syiah itu apa, sejarahnya apa gitu, saya mendukung penuh penolakan ini,” katanya seperti dikutip dari Jurnalislam.com.

“Tau sendiri kan kalau Syiah itu sesat dan bukan bagian dari Islam, bahkan mereka mengatakan kalau para sahabat Rasulullah berada di neraka,” sambungnya.

Sejak pukul 15.30 wib, massa yang berjumlah lebih dari 50 orang itu sudah berkumpul di depan gang masuk yang berjarak sekitar 10 meter dari rumah Syegaf Bin Husain. Beberapa warga dan perwakilan elemen umat Islam melakukan mediasi terkait penolakan dengan panitia kegiatan dan didampingi dari pihak aparat kepolisian setempat.

Situasi sempat memanas ketika panitia kegiatan berusaha mengulur-ulur waktu untuk tetap melanjutkan kegiatan perayaan Asyura Syiah itu. Hampir lebih dari satu jam, panitia kegiatan belum mau mengeluarkan peserta yang berada di dalam rumah. Hal ini sempat membuat massa yang berada di ujung gang meneriaki panitia meminta untuk segera membubarkan diri.

Tak berselang lama puluhan anggota Polresta Surakarta datang untuk ikut melakukan mediasi dengan panitia kegiatan dan massa yang menolak.

Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo akhirnya meminta pihak panitia untuk segera mengeluarkan para peserta agar dapat segera dapat dievakuasi. Puluhan peserta pun akhirnya dapat keluar dengan aman dari lokasi tersebut setelah dikawal oleh anggota kepolisian dan elemen umat Islam Surakarta.

Sekitar pukul 17.00 WIB semua peserta kegiatan Asyura Syiah telah meninggalkan tempat berlangsungnya kegiatan. Salah satu tokoh umat Islam Pasar Kliwon ustadz Faiz Baraja melakukan orasi di atas mobil dan menjelaskan kepada masyarakat sekitar terkait adanya kegiatan dari penganut Syiah itu.

“Ini adalah upaya kita untuk menjaga keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah Islam yang murni di masyarakat, mungkin sebagian masyarakat belum tau apa yang di dalam, acaranya adalah perayaan hari raya Syiah, keyakinan yang menyimpang yang dirayakan setiap tanggal 10 Muharam, dan kita harus menjaga akidah kita dan anak keturunan kita untuk tidak menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal Jamaah,” ungkapnya.

Sekitar pukul 17.10 WIB massa akhirnya membubarkan diri satu persatu dan meninggalkan lokasi kegiatan tersebut secara damai dan tertib.

MUI Jawa Timur telah mengeluarkan fatwa sesat yang tertuang dalam keputusan No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 terkait ajaran Syiah. Para ulama MUI Jawa Timur menilai semua negara yang dimasuki Syiah pasti tercipta konflik akibat banyaknya pemberontakan karena paham yang bertentangan dengan Islam. []


Sumber: Jurnalislam.com
Redaktur: Ibas Fuadi
Dipublikasikan oleh Kiblat

Selasa, 10 Juli 2018

Sekilas tentang Pengikut Syiah Alawiyyin

Sekilas tentang Pengikut Syiah Alawiyyin

View Article

Di tengah berkecamuknya perang saudara di Suriah, Presiden Bashar Assad berani muncul ke khalayak umum. Diberitakan laman Gulf-times.com, bersama grand Mufti Ahmad bader dan Menteri agama Mohammad Abdul Sattar, ia menunaikan shalat Idul fitri di masjid Sayyidah Khadijah, kota Tartus. Seperti provinsi Latakia dimana klan Assad berasal, Tartus ini didominasi pengikut Syiah Alawiyyin.

Perlu pembaca ingat, Assad termasuk Syiah Alawiyyin. Walau Alawiyyin, kata Prof Elizabeth Shakman Hurd dari Northwestern University, “Tidak semua Syiah Alawiyyin mendukung rezim Assad. Banyak keluarga Alawi di desa-desa yang sengsara di bawah kepemimpinan Assad, dan tak terhitung lagi Alawi yang miskin dan tersingkir. Bahkan sebelum konflik dimulai pada tahun 2011” (bostonreview.net, 11 Juni 2013). Saat ini, populasi pengikut Syiah Alawiyyin sekitar 12% dari populasi penduduk Suriah. Sementara penduduk Suriah sendiri kebanyakan adalah Sunni.

Sebutan lain dari kaum Alawiyyin adalah Nushairiyyah. Istilah Alawiyyin baru muncul belakangan. Berawal dari penjajah Prancis menamakan orang-orang Nushairiyyah di Suriah dengan sebutan “Alawiyyin” untuk mengelabuhi dan menutupi hakikat mereka yang sebenarnya. Di beberapa kawasan Turki dan Albania, mereka dikenal dengan sebutan “Baktasyiah”. Sementara di Turkistan, dikenal dengan nama “Ula Ilahiyah” (Lembaga Pengakajian dan Penelitian Wamy, hal 402-408).

Nushairiyyah diambil dari nama Muhammad bin Nashir al-Bashari. Ia adalah tangan kanan Hasan al-Askari, imam Syiah yang ke-11. Pasca wafatnya hasan, Nashir menyerahkan jabatan Imam ke anak Hasan, tetapi kemudian ia tidak mau mengakui Hasan dan anaknya sebagai imam. Ia malah mendakwahkan bahwa dirinyalah imam, kemudian ia mengaku sebagai Nabi bahkan sebagai Tuhan (Abdul Mun’im al-Hafni, Ensiklopedia Golongan, Aliran, Mazhab, Partai dan Gerakan Islam, hal 658).

Alawiyyin ternyata tidak senang dengan julukan Nushairiyyah, karena mereka beranggapan bahwa nama tersebut didasari rasa ketidaksenangan dan permusuhan terhadap keyakinan mereka. Sebagaimana sebutan Rafidhah bagi Syiah Imamiyyah dan Nawashib bagi Ahli Sunnah (Asy-syakkah, hal 265). Saya belum tahu apakah seorang Bashar al-Assad memiliki paham mengkultuskan Ali ataukah tidak.

Dari aspek aqidah, Alawiyyin merupakan cerminan dari aqidah Imamiyyah. Meskipun demikian, masih menurut Muhammad Asy-Syakkah di bukunya ‘Islam Tidak Bermazhab’, sebagian di antara mereka ada yang condong ke sikap ghuluw dan menyimpang, misal menjadikan taqiyyah sebagai bagian dari aqidah mereka. Selain itu ada dari mereka yang menyimpang punya anggapan ibadah shalat, puasa, zakat, dan haji punya makna lahir dan makna batin. Padahal Islam bukanlah agama yang rumit dan mengandung sisi batiniyyah.

Terakhir sebelum menyudahi tulisan ini, Syiah Alawiyyin punya pendapat fikih (fatwa) yang sebagian besar berbeda jauh dengan Ahlu Sunnah, diantaranya: Anak perempuan tidak akan mendapat bagian warisan jika ia memiliki saudara laki-laki. Mengharamkan makan daging kelinci, unta dan semua hewan betina yang mengeluarkan darah haid. Yang paling aneh adalah anak-anak tidak diperkenankan belajar agama sebelum mencapai umur 15 tahun. Entah apa maksud dibalik larangan tersebut.

Tentang ruh, pada mulanya ruh berada di sisi Allah Subḥānahu wa ta'alā, kemudian turun ke bumi. Ketika di bumi, masing masing ruh menggunakan pakaian (taqamush) yaitu tubuh kasar, dan apabila tubuh yang kasar itu hancur maka ruh tersebut berpindah ke tubuh yang lain. Ulama dan syeikh mereka punya peran dalam menentukan hari yang tepat bagi pelaksanaan pernikahan di kalangan Alawiyyin. Mereka menerima poligami dan tidak setuju dengan kawin Mut’ah (Abdul Mun’im al-Hafni, hal 658-659, Asy-syakkah, hal 292-294).

Demikian sekilas tentang aqidah dan fikih Syiah Alawiyyin. Literatur yang mengulas aqidah dan pandangan fikih mereka sangat terbatas. Ditambah lagi sebutan Alawiyyin bisa mengecoh orang awam khususnya di Indonesia. Sebutan ‘Alawiyyin’ juga dipakai keturunan Arab dari Yaman. Warga Arab yang turut andil dalam penyebaran Islam di Nusantara, baik aqidah dan amaliah fiqihnya tidak sama dengan Syiah Alawiyyin di Suriah.

Para Alawiyyin yang nenek moyangnya bernama Ahmad bin Isa al-Muhajir, sedari awal konsisten menganut mazhab Syafi’i. Dalam buku Mazhab para Habaib dan Akar Tradisinya (2013), Ahmad Haydar Baharun menulis, “Pengajian-pengajian yang digelar oleh para Alawiyyin secara jelas hanya menyajikan materi-materi yang bernuansa mazhab Syafii dan diperkaya dengan tradisi para ulama Alawiyyin di Hadramaut”. Wallahu a’lam.

Fadh Ahmad Arifan
Alumnus Studi Ilmu Agama Islam di Pascasarjana UIN Maliki Malang.
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Selasa, 27 Maret 2018

MUI Jember: Buku '57 Khutbah Jumat' Terindikasi Berpaham Syiah

MUI Jember: Buku '57 Khutbah Jumat' Terindikasi Berpaham Syiah

View Article

Majelis Ulama Islam Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyatakan bahwa buku berjudul '57 Khutbah Jumat' terindikasi berpaham keagamaan Syiah yang bertentangan dengan paham keagamaan mayoritas muslim di Indonesia yakni Sunni.

Buku berjudul lengkap '57 Khutbah Jumat: Runut Logika Agama yang Terpadu dengan Kebangsaan dan Sentuhan Doa' ini diterbitkan lembaga Islam Integral yang dipimpin Ali Assegaf. Buku ini mendapat pengantar dari Kepala Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif.

Dalam sinopsis di sampul belakang buku tertulis: ide pembuatan buku ini bermula dari keprihatinan terhadap banyaknya kajian agama tanpa menyertakan wacana bangsa, wacana Pancasila di dalamnya, begitu pun sebaliknya.

"Buku itu sangat berpotensi meresahkan. Banyak paham Syiah yang dikembangkan di situ. Pengantarnya Pak Yudi Latif, tapi nama penulis tidak dicantumkan. Antara kata pengantar dan isi buku tidak berkaitan sama sekali," kata Ketua MUI Jember Abdul Halim Subahar.

Isi buku tersebut, menurut Halim, bertentangan dengan paham arus utama keislaman di Indonesia dan tidak akurat. "Kajian (dalam buku itu) dangkal dan hanya mengutip tiga pendapat yang biasa dikembangkan Syiah dalam melihat Ahlul Bait, seperti pandangan Ali bin Abu Thalib, pandangan Hasan, pandangan Husein, tidak ada pandangan lain di buku itu. Padahal itu didesain buku khotbah. Saya yakin 99 persen masjid di Jember akan menolak (buku) itu," kata guru besar Institut Agama Islam Negeri Jember ini.

"Maka, MUI memberikan pernyataan: agar buku itu tidak diedarkan. Bahaya, karena akan memicu keresahan," kata Halim.

Sebelumnya, TNI Komando Distrik Militer 0824 dimintai bantuan oleh Ali Assegaf untuk mendistribusikan buku tersebut untuk 2.018 masjid di Jember. Namun reporter Beritajatim.com mendadak mendapat pesan WhatsApp dari Bagian Humas Kodim 0824 yang meminta agar mengembalikan buku yang dihadiahkan Ali Assegaf untuk wartawan kepada Kodim. Belakangan terungkap, bahwa buku itu tengah dikaji oleh MUI Jember.

Dimintai konfirmasi terpisah, Ali keberatan jika bukunya disebut berwarna Syiah. "Tunjukkan di mana Syiah-nya? Ali (bin Abi Thalib) itu adalah khalifah," katanya.

Sebelumnya, usai Sarasehan Merekatkan Bangsa Memperkokoh NKRI, di Aula Komando Distrik Militer 0824, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (12/3/2018) lalu, Ali mengatakan, buku itu dibuat dengan motivasi membangun.

"Saya melihat Islam melahirkan nilai-nilai Pancasila dan dalam Islam ada media salat Jumat. Kita tidak ingin salat Jumat menjadi tempat yang justru tidak mengenalkan fungsi negeri dan Pancasila. Selama ini saya lihat nilai dalam Islam dan Pancasila sering dibuat tidak sinkron," katanya. [annasindonesia/berdakwah]

Senin, 26 Maret 2018

Empat Bandara di Arab Saudi Diserang Rudal Balistik Syiah Houthi

Empat Bandara di Arab Saudi Diserang Rudal Balistik Syiah Houthi

View Article

Gerilyawan Syiah Yaman, Houthi, menembakkan beberapa rudal balistik jarak jauh ke empat bandar udara (bandara) di Arab Saudi, demikian satu pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita yang dikuasai Houthi, Saba. Satu rudal balistik ditembakkan ke arah Bandar Udara Internasional Raja Khaled di bagian utara Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh.

Rudal kedua ditujukan ke Bandar Udara Internasional Abha di Provinsi Asir di bagian barat-daya Arab Saudi. Rudal ketiga, tambah pernyataan tersebut, ditembakkan ke arah Bandar Udara Internasional di Provinsi Jizan, bagian selatan Arab Saudi.

Sementara itu, rudal keempat ditembakkan ke arah bandar udara regional di Provinsi Najran, bagian tenggara Arab Saudi. "Tindakan tersebut adalah reaksi terhadap instruksi dari pemimpin revolusi Abdul-Malik Al-Houthi," kata kelompok Syiah Yaman itu di dalam pernyataan tersebut.

"Serangan rudal itu juga adalah pembalasan terhadap koalisi pimpinan Arab Saudi karena menggunakan semua senjata dalam perang mereka melawan rakyat Yaman," tambah kelompok tersebut.

Kelompok yang menguasai sebagian besar provinsi Yaman Utara itu juga mengatakan petempurnya menembakkan beberapa rudal balistik lagi ke beberapa sasaran lain di Arab Saudi, tapi tidak menyebutkan nama sasaran mereka.

Baca jugaMengenal Syiah: Antara Syiah Dan Rafidhah, Apa Perbedaannya?
Baca jugaPokok-Pokok Akidah Ajaran Syi’ah yang Wajib Kamu Ketahui

Serangan rudal tersebut dilancarkan tak lama setelah pemimpin milisi Houthi, Abdul-Malik Al-Houthi, berpidato melalui televisi untuk memperingati tahun ketiga perang antara kelompok itu dan Pemerintah Yaman yang diakui masyarakat internasional dan didukung oleh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi. Di dalam pidatonya, Abdul-Malik berikrar akan meningkatkan serangan rudal balistik terhadap Arab Saudi.

Gerilyawan Al-Houthi telah menembakkan ratusan rudal balistik ke arah kota besar Arab Saudi, tapi sebagian besar dicegat oleh pasukan pertahanan udara Arab Saudi. Sejauh ini, perang telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang Yaman, kebanyakan warga sipil, dan mendorong negara Arab tersebut ke ambang kelaparan massal. []


Sumber : Antara/Xinhua
Dipublikasikan oleh Republika

Kamis, 28 September 2017

[Video] Mengagetkan! Ternyata Begini Cara Syiah Baca Al Quran dalam Shalat

[Video] Mengagetkan! Ternyata Begini Cara Syiah Baca Al Quran dalam Shalat

View Article

Video shalat kaum Syiah Iran tersebar di media sosial. Tak hanya satu, video itu mengumpulkan sejumlah kesempatan ketika imam shalat kaum Syiah membaca Al Fatihah dan surat lainnya.

Yang mengagetkan, beberapa imam shalat kaum Syiah tersebut membaca Al Quran dalam shalat dengan aksen seperti membaca koran. Hingga banyak netizen yang beranggapan bahwa bacaan seperti itu melecehkan Al Quran.

“Cara syi'ah membaca Al-Qur'an, Sungguh sangat melecehkan!!,” kata akun Just Islam yang mengunggah video tersebut, Jumat (22/9/2017).

“Nauzubilah min zalik... jangan mengubah apa yang telah digariskan Allah.. Dan apa yang sudah diberi petunjuk janganlah mengubahnya masaallah syiah ini benar-benar telah menyesatkan..,” kata Nita Fitriawati.

Banyak netizen lain yang menegaskan bahwa syiah bukan Islam.

Namun, ada pula sebagian netizen yang memaklumi bahwa bisa saja bacaan tersebut karena terpengaruh oleh aksen dan lisan mereka.

“Itu mungkin terpengaruh dari aksen bahasa mereka kali... coba dengar jamaah yang dari Turki.. ada juga yang demikian, karena terbawa aksen bahasa mereka..,” kata Ummu Ridho.

Dalam video itu, ditampilkan pula penjelasan seorang ulama bahwa banyak orang ‘ajam (non Arab) yang membaca Al Quran saat shalat dengan benar. Tidak seperti membaca koran. Sehingga menurutnya, alasan aksen adalah alasan yang lemah.

“Saya tidak mengejek karena dia ajami. Ini bukan karena ajam (non Arab). Saya bersumpah demi Allah, banyak orang ajami yang membaca Al Quran dengan benar,” tandasnya sembari mencontohkan umat Islam dari Indonesia, dari Tajikistan, dari Cina, dari Amerika, bahkan dari Iran yang sunni (ahlus sunnah). [tarbiyah/berdakwah]

28 Ormas Islam Sulawesi Selatan Tolak Perayaan Asyura Syiah

28 Ormas Islam Sulawesi Selatan Tolak Perayaan Asyura Syiah

View Article
Ilustrasi ritual syiah dihari asyura

Perayaan Asyura 10 Muharram yang dilakukan kelompok Syiah mendapat penolakan dari 28 ormas Islam se Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Forum Umat Islam Bersatu (FUIB). Ormas-ormas itu antara lain Pemuda Muhammadiyah, Front Pembela Islam (FPI), Laskar Pemburu Aliran Sesat (LPAS), Wahda Islamiyah, Hidayatullah, Ikatan Dakwah Indonesia (IKADI), dan lain sebagainya.

Ketua FUIB Sulsel Mukhtar Daeng Lau mengungkapkan, melalui pertemuan dengan seluruh pemangku kebijakan pemerintahan baik Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel, dan kepolisian belum lama ini pihaknya secara tegas menyampaikan bahwa perayaan Asyura 10 Muharram oleh kaum Syiah tidak boleh dilaksanakan.

“Penolakan ini sebagai upaya mengantisipasi terjadinya konflik horizontal. Pasalnya di Indonesia termasuk di Makassar mayoritas ummat Islam adalah Sunni,” ungkapnya Via Telepon, Rabu (27/9/2017), seperti dikutip dari Harianamanah.

Jika perayaan Asyura Syiah tetap dilaksanakan apalagi di tempat-tempat umum maka dipastikan akan terjadi gesekan dalam bentuk pemberhentian paksa.

“Pastinya ormas dan lembaga-lembaga Islam yang tergabung dalam FUIB tidak akan diam jika memang ada laporan atau pantauan langsung penyelenggaraan Asyuro Syiah dilaksanakan,” tegasnya.

BACA : UNGKAP HABIS KESESATAN SYIAH!

Sementara Ketua Bidang Hukum, Advokasi, dan HAM Pemuda Muhammadiyah Wilayah Sulsel mengakatan bahwa setiap tahun selalu bergejolak penolakan terhadap perayaan Asyura Syiah.

"Selalu kita tolak, bahkan tahun lalu berhasil dibatalkan. Tahun ini, kita lakukan langkah antisipasi agar perayaan Asyura Syiah tidak dilaksanakan di tempat umum," ujarnya, Rabu (27/9/2017).

Perayaan Asyura Syiah merupakan perayaan besar kaum Syiah dalam rangka memperingati kematian cucu Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam yakni Al-Hasan dan Al-Husein. * [Syaf/voa-islam.com]

Kamis, 07 September 2017

Disembelih Syiah dengan Nama Husein, Unta Ini Mengamuk

Disembelih Syiah dengan Nama Husein, Unta Ini Mengamuk

View Article

Sebuah video penyembelihan unta menjadi viral di media sosial. Pasalnya, unta yang disembelih komunitas syiah itu mengamuk meskipun darah telah mengucur dari lehernya. Unta tersebut mengamuk dan menginjak-injak sejumlah penganut syiah setelah disembelih dengan nama Husein.

Dalam Islam, menyembelih hewan harus dengan membaca nama Allah. Barulah hewan tersebut halal dimakan. Apalagi jika hewan tersebut adalah hewan qurban. Menyembelih dengan nama selain Allah, bisa menjerumuskan ke dalam kemusyrikan.

Video berjudul “Syiah, Sembelih Unta dengan Nama Husein Untanya Ngamuk” menjadi viral di media sosial. Video berdurasi 59 detik ini memperlihatkan komunitas syiah tengah mengerumuni seekor unta yang akan disembelih.

Anehnya, tidak terdengar nama Allah disebut ketika unta itu disembelih. Bahkan menurut Toko Buku Al Fauzan yang mengunggah video ini, mereka menyebut nama Husein.

Setelah disembelih, bukannya jatuh tersungkur, unta tersebut justru mengamuk. Dalam kondisi lehernya bercucuran darah, unta itu mengamuk dan menginjak-injak sejumlah penganut syiah sebelum akhirnya unta tersebu lari menjauh. []

Senin, 31 Juli 2017

Bagaimana Cara Mengetahui Seseorang Syiah? Ini Penjelasan Imam Syafi’i

Bagaimana Cara Mengetahui Seseorang Syiah? Ini Penjelasan Imam Syafi’i

View Article

Taqiyah membuat seorang syiah sulit dibuka kedoknya. Ustadz Abdul Somad menceritakan, ketika seorang ustadz Syiah ditangkap, ia menolak dituduh syiah. Bahkan ia mengatakan berasal dari sebuah ormas Islam besar di Indonesia.

Alhamdulillah, ternyata ada cara yang ditunjukkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah untuk mengetahui bahwa seseorang itu syiah.

Semula, saat ditangkap, ia mengatakan “saya dari Muhammadiyah.” Disuruh shalat, ia juga shalat dengan cara lazimnya orang Muhammadiyah shalat. Namun setelah diperiksa tasnya, ditemukan turbah karbala. Sebuah potongan tanah dari karbala sebagai alas sujud.

Akhirnya ia mengaku. “Saya syiah, tapi yang moderat” demikian taqiyah ia berikutnya.

Lalu bagaimana cara mengetahui seseorang syiah? Ustadz Abdul Somad mengutip maqalah Imam Syafi’i: “Jangan engkau shalat di belakang syiah.” Yakni syiah rafidhah atau syiah 12 imam.”

Imam Al Buwaidi murid Imam Syafi’i bertanya, “Bagaimana kami tahu kalau dia itu Syiah?”

Imam Syafi’i lantas menjelaskan: “Siapa yang mengatakan Abu Bakar dan Umar bukan khalifah namun perampas kekuasaan khalifah Ali, maka ia syiah rafidhah.”

Apakah Syiah di Indonesia juga demikian? Ustadz Abdul Somad mengungkapkan, syiah di Indonesia juga mencaci Abu Bakar dan Umar. Hal itu diketahui dari buku-buku mereka.

Buku “40 Masalah Syiah” yang ditulis oleh Emilia Renita –mantan istri Jalaludin Rakhmat- merupakan salah satunya. Dalam buku itu ditulis “Abu Bakar la” yang artinya laknatullah ‘alaih. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Mengapa Serangan Rudal ke Makkah Selalu Gagal?

Mengapa Serangan Rudal ke Makkah Selalu Gagal?

View Article

Syiah Houthi kembali menuai kecaman umat Islam internasional. Pasalnya, kelompok pemberontak di Yaman itu meluncurkan rudal balistik ke arah Makkah Al Mukarramah pada Kamis (27/7/2017). Untungnya, rudal itu berhasil dicegat rudal pertahanan udara Thaif, seperti di lansir oleh Tempo.

Bukan kali ini saja Syiah Houthi berusaha menyerang Makkah, kota suci yang di dalamnya terdapat Masjidil Haram dan Ka’bah. Pada Oktober 2016, Syiah Houthi juga meluncurkan sejumlah rudal balistik ke Makkah. Saat itu, rudal balistik Houthi bisa dihancurkan setelah melesat dan tinggal 40 dari Makkah.

Mengapa serangan rudal Syiah Houthi ke Makkah selalu gagal? Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala sang pemilik Ka’bah-lah yang melindunginya.

Jauh sebelum Syiah Houthi meluncurkan rudal dari Yaman, Raja Yaman Abrahah juga pernah berusaha menghancurkan ka’bah.

Abrahah mengerahkan pasukan bergajah untuk menghancurkan ka’bah. Namun ketika berada di padang pasir menuju Makkah, pasukan gajah yang sangat besar itu dihancurkan Allah dengan burung ababil.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan kisah itu dalam firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS. Al Fil: 1-5)

BacaHadits tentang Syiah Ini Sekarang Terbukti Kebenarannya

Pernah juga, seorang tokoh Syiah Houthi menyatakan ingin menghancurkan ka’bah. Abdul Karim al-Khiwani sesumbar akan menyerang Ka’bah. “Kami akan mengelilingi ka’bah pada musim haji mendatang sebagai para penakluk,” katanya pada saat itu.

Tak sampai setahun, sebelum musim haji itu datang, Abdul Karim al-Khiwani tewas ditembak oleh dua orang pengendara motor di ibukota Yaman. Serangan itu terjadi satu pekan sebelum operasi “Storm of Resolve” dilancarkan Arab Saudi dan Koalisi Teluk. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Baca: Pokok-Pokok Akidah Ajaran Syi’ah yang Wajib Kamu Ketahui
Baca: Mengenal Syiah: Antara Syiah Dan Rafidhah, Apa Perbedaannya?

Jumat, 23 Juni 2017

Mengenal Syiah: Antara Syiah Dan Rafidhah, Apa Perbedaannya?

Mengenal Syiah: Antara Syiah Dan Rafidhah, Apa Perbedaannya?

View Article

Seorang muslim selain dituntut untuk mempelajari kebenaran, juga harus mengetahui kebatilan. Di dalam Al Qur’an pun Allah ta’ala selain menjelaskan jalan kebenaran (sabilul mu’minin)[1] juga menjelaskan jalan kebatilan (sabilul mujrimin)[2].

Hal ini menunjukan bahwa seorang muslim harus memahamai kedua hal tersebut. Sebagaimana yang dipahami oleh sahabat Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata “dahulu orang orang bertanya kepada Rosulullah Shallalllahu ‘Alaihi Wasallam tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada nya tentang keburukan, karena takut terjerumus kepadanya”.[3]

Dan betul apa yang dikatakan oleh seorang penyair :

عرفت الشرّ لا للشرّ……………. ولكن لتوقّيه
ومن لا يعرف الشرّ……………. من الناس يقع فيه
“aku mengetahui keburukan bukan untuk berbuat keburukan, akan tetapi untuk menghindarinya.
Dan barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan dari manusia, dia akan terjatuh kedalamnya”

Diantara bentuk kebatilan yang sekarang sedang menjadi isu sentral di masyarakat dunia secara umum dan di masayarakat indonesia seara khusus adalah isu syiah. Di indonesia sendiri, mereka sudah membuat keresahan dimana mana. Mereka begitu aktif menyebarkan dan mendakwahkan ajarannya. Baik dengan tulisan, ceramah, gerakan sosial, politik, hingga aksi kekerasan pun mereka lakukan demi melancarkan tujuannya. Berbagai macam teror, intimidasi, keonaran, ancaman dan lainnya sudah mereka lakukan. Kita pun menyaksikan, banyak kaum muslimin yang dangkal akidahnya, sudah terpengaruh oleh ajaran mereka.

Maka menjadi penting bagi umat islam indonesia untuk sedikit banyak mengetahui ajaran ini. Dan di makalah ini –serta makalah makalah selanjutnya insya Allah– akan dibahas secara ringkas tentang syiah, definisi, akidah, sejarah dan hal yang lainnya. Dengan harapan Allah ta’ala menyelamatkan diri kita dari syubhat-syubhat mereka. Dan tetap menjaga diri kita dalam kebenaran ajaran islam yang murni sebagaimana yang dipahami oleh para pendahulu kita.

Siapakah yang dimaksud dengan syiah
Secara bahasa syiah bermakna kelompok, penolong, dan pengikut[4]. Adapun secara istilah para ulama berbeda beda[5] dalam mendefinisikannya.[6] Namun bila dicermati kembali, perbedaan tersebut tidak terlepas dari keberadaan ajaran syiah yang terus mengalami perkembangan. Syiah di awal kemunculannya berbeda dengan syiah di jaman jaman setelahnya. Dahulu tidak lah dinamakan syiah kecuali mereka yang mengutamakan Ali bin Abi Thalib diatas Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu, [7]dengan tetap mengutamakan Abu Bakar dan Umar bin khatab Radhiyallahu ‘Anhu.[8]

Namun pada masa perkembangannya syiah mengalami banyak sekali perubahan. Berbagai penyimpangan akidah disusupkan dalam ajaran syiah. Orang orang yang memiliki kebencian dan dendam kesumat kepada umat islam bersembunyi dibalik topeng syiah. Sehingga akhirnya para ulama pun enggan menyebut mereka dengan syiah dan lebih suka menyebut mereka dengan nama Rafidhah.

Definisi Rafidhah dan sebab penamaannya.[9]
Adapun rafidhah secara bahasa bermakna meninggalkan. Adapun secara istilah rafidhah adalah suatu aliran yang menisbatkan dirinya kepada syiah (pengikut) ahlul bait, namun mereka berlepas diri (baro’) dari Abu Bakar dan Umar bin Khathab, serta seluruh sahabat yang lain kecuali beberapa dari mereka, juga mengkafirkan dan mencela mereka.

Sebagian ulama menyatakan bahwa sebab penamaan Rafidhah adalah karena mereka meninggalkan dan menolak (rofadho) kepemimpinan (imaamah) Abu Bakar dan Umar. Dengan meyakini bahwa kepemimpinan yang seharusnya sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah ditangan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhum.

Namun mayoritas ulama menyatakan bahwa penamaan rafidhah bermula pada masa Zaid bin Ali Rahimahullah. Yang mana ketika itu beliau meyakini bahwa Ali lebih utama dibandingkan Utsman. Beliaupun masih memberikan loyalitasnya kepada Abu Bakar dan Umar dan menganggap mereka sebagai manusia terbaik sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun ternyata diantara pengikutnya yang telah berbaiat kepadanya ada sebagian orang yang justru mencela Abu bakar dan Umar. Maka zaid pun langsung menegur dan mengingkari mereka, hingga akhirnya mereka berpecah belah dan meninggalkan Zaid bin Ali. Maka Zaid pun berkata kepada mereka, “kalian telah meninggalkanku” (rofadhtumuunii), maka sejak saat itulah mereka dikenal dengan nama Rafidhah.

Syiah atau Rafidhah?
Berdasarkan penjelasan diatas, bisa kita lihat bahwasanya kata syiah memiliki makna yang positif dan baik, apalagi jika dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, yang bermakna pengikut atau penolong Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu. Adapun kata Rafidhah berkonotasi negatif. Karena bermakna penolakan terhadap Abu Bakar dan Umar Rodhiyallahu Anhu atau kepada Zaid bin Ali menurut pendapat jumhur. Hal ini lah yang menyebabkan orang orang syiah tidak suka disebut sebagai Rafidhah.[10] Mereka menganggap bahwa penamaan ini berasal dari orang orang yang benci dengan ajaran syiah. Meskipun jika melihat keadaan mereka yang sebenarnya penamaan Rafidhah lebih tepat disematkan kepada mereka.

Selain itu juga penamaan syiah kepada mereka akan menimbulkan kerancuan. Sebab syiah sendiri terpecah menjadi berkelompok kelompok, yang diantaranya syiah zaidiyah, yang masih dekat dengan Ahlu Sunnah. Sehingga jika dimutlakan istilah syiah, maka akan mencakup seluruh aliran syiah, termasuk zaidiyah. Belum lagi jika kita melihat syiah diawal kemunculannya. Yang hanya mengedepankan Ali bin Abi Thalib dihadapan Utsman. Penamaan syiah secara mutlak kepada orang orang Rafidhah akan menjadikan munculnya kesalahpahaman sebagian orang. Dengan menganggap orang orang syiah diawal kemunculannya sama dengan orang orang Rafidhah saat ini.

Meskipun memang tidak bisa kita pungkiri, jika melihat realitasnya saat ini, tidaklah disebutkan nama syiah secara mutlak kecuali maknanya akan kembali kepada syiah Rafidhah. Hal tersebut selain karena syiah Rafidhah ajarannya mereprentasikan akidah kelompok syiah yang lainnya secara umum, juga jika melihat sumber ajaran mereka yang disebutkan dalam hadis dan riwayat yang tercantum dalam kitab kitab mereka, telah mencakup ajaran berbagai macam kelompok syiah dalam berbagai kurun waktu dimasa perkembangannya.[11]

Maka jikapun hendak menggunakan kata syiah, sebaiknya disertai dengan kata yang khusus menunjukan kepada mereka orang orang Rafidhah. Baik menyebutnya dengan syiah Rafidhah, atau syiah imamiyah, atau syiah itsna asyariyah, ataupun syiah ja’fariyah. Yang merupakan nama lain dari syiah Rafidhah.[12]

Wallahu ‘Alam bis Showab

Catatan kaki
  1. Lihat An Nisa ayat 115
  2. Lihat Al An’am : 55
  3. HR. Bukhori : 3606
  4. Ushul madzhabis Syiah, Dr. Nashir Al Qifari (Dar Khulafaur Rosyidin, Cet 1; 1433 H) hal. 27
  5. Lihat perbedaan para ulama dan krittikannya dalam ushul madhabis Syiah, hal. 35-45
  6. Diantara definisi yang paling mendekati kebenaran adalah definisi As Syahrstani, beliau berkata, “syiah adalah mereka yang mengikuti Ali Radhiyallahu ‘Anhu secara khusus. Meyakini kepemimpinan dan kekhalifahannya secara nash dan wasiat, baik secara terang terangan maupun sembunyi sembunyi. Dan meyakini bahwa kepemimpinan tidak lepas dari keturunannya. Jika kemudian keluar dari keturunannya, maka itu terjadi karena kedholiman dari orang lain atau taqiyah darinya. Mereka mengatakan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah kemaslahatan yang dilakukan berdasarkan pemilihan umum dan diberlakukan oleh umum. Namun imamah merupakan masalah pokok dan rukun agama yang tidak boleh bagi para rosul menyepelekan dan melalaikannya, juga tidak boleh menyerahkannya kepada masyarakat umum. (Lihat : Al Milal Wan Nihal 6/146)
  7. Dan memang salaf dahulu berbeda pendapat mana yang lebih mulia antara Utsman dan Ali. Namun perbedaan ini termasuk dalam ranah ijtihad. Bukan merupakan masalah pokok dalam ajaran islam. sehingga karenanya kesalahan dalam masalah ini tidak menjadikan seseorang sesat. Para sahabatpun ketika itu tidak saling menyesatkan. (lihat penjelasan hal ini dalam Aqidah Wasathiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
  8. Yang karenanya meskipun mereka dinamakan syiah, pada hakekatnya mereka adalah ahlu sunnah wal jama’ah. (Ushul Madzhabis Syiah, hal. 56)
  9. Lihat Aqidatur Rafidhah Wa Mauqifuhum Min Ahlis Sunnah, Dr Ibrohim Ar Ruhaili, (Darun Nasihah, Cet 1; 1432 H) Hal. 15-17
  10. Fikrul Khowarij Was Syiah Fie Miizani Ahlus Sunnah, Dr Ali As Shalabi (Darul Andalus, Cet 1; 1429 H0 Hal. 100
  11. Lihat Ushul Madzhabils Syiah hal 88
  12. Fikrul Khowarij Was Syiah, hal. 101
Penulis: Muhammad Singgih Pamungkas
Artikel: https://muslim.or.id/25664-mengenal-syiah-antara-syiah-dan-rafidhah.html

Manusia Ini Disembah oleh Kaum Syiah Iran, Siapa Dia dan Apa yang Sudah Dilakukannya?

Manusia Ini Disembah oleh Kaum Syiah Iran, Siapa Dia dan Apa yang Sudah Dilakukannya?

View Article

Siapakah Abu Lu’Lu’ah hingga Makamnya Dimuliakan & Disembah oleh kaum Syiah?

Di Iran, tepatnya kota Kasyaan, sebuah makam dibangun dengan megah. Pintu masuk ke makam itu berupa gerbang besar setinggi 6 meter. Kubah kuburannya lebih tinggi lagi, dengan puncaknya berbentuk kerucut.

Makam itu begitu dimuliakan kaum Syiah hingga sering dipadati oleh para peziarah. Makam itu juga dianggap sebagai tempat mengais berkah. Tertulis di sana: “Tempat berkah sang pemberani agama, Abu Lu’lu’ah Fairuz”

Siapakah Abu Lu’lu’ah sehingga sangat dimuliakan oleh kaum Syiah, terutama Syiah Iran? Ternyata Abu Lu’lu’ah adalah orang Majusi yang telah membunuh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Seperti diuraikan Syaikh Prof Dr Ali Muhammad Ash Shalabi, Syaikh Dr Mustafa Murad dan para pakar sejarah Islam lainnya, bahwa ketika mengimami shalat Subuh, Umar bin Khattab ditikam oleh seorang laki-laki dari belakang hingga beliau tidak bisa meneruskan shalatnya. Lalu Abdurrahman bin Auf menggantikannya menjadi imam.

Abdurrahman bin Auf meneruskan shalat tersebut dengan lebih cepat. Sementara Umar bin Khattab telah berdarah-darah. Ketika shalat selesai, Umar bin Khattab bertanya kepada Ibnu Abbas siapa yang telah menikamnya. “Wahai Amirul Mukminin, budak Mughirah-lah yang telah menikammu,” jawab Ibnu Abbas.

“Semoga Allah membinasakannya,” kata Umar bin Khattab, “Aku telah memerintahkan kebaikan pada dirinya. Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan seorang yang mengaku dirinya Islam.”

Umar kemudian dibawa ke rumah. Sementara banyak orang yang tidak mengetahui kejadian persis saat itu menganggap Umar bin Khattab hanya mengalami luka kecil.

Sementara itu, Abu Lu’lu’ah telah meninggalkan masjid. Setelah menikam Umar, penganut Majusi yang tadinya berpura-pura shalat itu, segera mundur. Demi bisa segera pergi dari masjid, ia menikam 13 orang yang dilaluinya, tujuh di antaranya kemudian meninggal.

Tak lama setelah itu, Umar bin Khattab pun syahid. Sesuai dengan doanya yang memohon kepada Allah untuk mati syahid di kota Nabi.

Bagaimana nasib Abu Lu’lu’ah? Ketika kaum muslimin berhasil mengepungnya, Abu Lu’lu’ah yang merasa tak mungkin bisa meloloskan diri kemudian bunuh diri. Meskipun ia mati di Madinah, orang-orang Syiah membuatkan makam di Kasyaan dan memuliakannya.

Jadi sebenarnya, makam di Kasyaan itu hanyalah makam ilusi; simbol untuk memuliakannya sebagai seorang pahlawan yang berjasa telah membunuh Umar bin Khattab yang memang sangat dibenci Syiah. []

"Berikut dibawah ini adalah video ilustrasi berdurasi 10 menit yang patut untuk kita tonton dan tentu saja wajib anda share kepada orang terdekat anda agar semakin waspada dengan paham syiah yang berbahaya, sekaligus sebagai pengingat dan penguat bukti bahwa syiah bukan bagian dari agama Islam. #SyiahBukanIslam #SyiahSesat #SejarahMembuktikan"

SIMAK VIDEO BERIKUT, JANGAN LUPA SHARE!
Pokok-Pokok Akidah Ajaran Syi’ah yang Wajib Kamu Ketahui

Pokok-Pokok Akidah Ajaran Syi’ah yang Wajib Kamu Ketahui

View Article

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Zat Yang Maha Sempurna nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Saudaraku, sesungguhnya jalan kebenaran sangatlah jelas, begitu pula jalan kesesatan begitu gamblangnya.

Semuanya telah ditunjukkan oleh Allah Ta’ala dan diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sejelas-jelasnya. Maka barangsiapa yang mengambil petunjuk dari Allah dan rasul-Nya dia akan meniti jalan kebenaran, sedangkan yang meninggalkannya akan terjerumus ke dalam jurang kesesatan.

Di antara kelompok yang jauh menyimpang dari ajaran Allah dan rasul-Nya adalah ajaran Syi’ah. Walaupun mereka mengaku Islam, namun hakekatnya mereka bukanlah Islam. Kita akan lihat bagaimana akidah dan keyakinan Syi’ah yang disebutkan dalam kitab-kitab mereka sehingga kita bisa menilai siapa mereka sesungguhnya.

Akidah Syi’ah Tentang Nama dan Sifat Allah
Di antara akidah Syi’ah tentang nama dan sifat Allah adalah :

  1. Syi’ah menafikan (meniadakan) sifat nuzul (turun-Nya Allah) bagi Allah ke langit dunia dan menghukumi kafir bagi yang menetapkan hal tersebut. (Ushuulul Kaafi 1/103).
  2. Syi’ah menyifati imam-imam mereka dengan sifat-sifat Allah  dan menamai mereka dengan nama-nama Allah Ta’ala. (Lihat Kitab Ushuulul Kaafi 1/103)

Akidah Syi’ah Tentang Tauhid
Di antara akidah Syi’ah berkenaan dengan tauhid adalah :

  1. Syi’ah meyakini bahwa planet-planet dan bintang-bintang mereka memiliki pengaruh bagi kebahagaiaan dan kesengsaraan serta nasib masuk surga dan neraka (Ar Raudhatu minal Kaafi 8/2103)
  2. Syi’ah meyakini bahwasanya syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah harus disertai dengan persaksian bahwa Ali adalah wali Allah. Merka senantiasa mengulang-ulangnya dalam adzan mereka dan setiap setelah selesai shalat dan ketika mentalkin orang yang sudah meninggal. (Kitab Furuu’il Kaafi 3/82)
  3. Syi’ah meyakini bahwa Allah  mengutus Jibril untuk membawa wahyu kepada Ali, namun Jibril keliru memberikan wahyu kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam (Kitab Al Maniyatu wal Amal fii Syarhil Milal Wan Nahl 30)

Akidah Syi’ah Tentang Al Qur’an
Di antara akidah Syi’ah tentang Al Qur’an adalah :

  1. Syi’ah meyakini bahwa Al Qur’an yang sekarang ada bukanlah Al Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad shalllahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sudah diganti, diberi tambahan, dan dikurangi. Muhaddits Syi’ah meyakini bahwa sudah ada perubahan dalam Al Qur’an sebagaimana disebutkan oleh An Nauri At Tabrasi dalam kitab Faslul Khitab fii Tahrifi Kitabi Rabbil Arbaab.
  2. Syi’ah meyakini bahwa Al Qur’anul Karim ada yang kurang dan Al Qur’an yang sesungguhnya naik ke langit ketika para sahabat  murtad. (Kitab At Tanbih war Radd  25)

Akidah Syi’ah Tentang Ali dan Ahlul Bait
Di antara akidah Syi’ah tentang Ali dan Ahlul Bait adalah :

  1. Menurut Syi’ah bahwa yang pertama kali akan ditanyalan pada mayit di kuburnya adalah tentang kecintaan terhadap Ahlul Bait (Kitab Baharul Anwar 27/79).
  2. Syi’ah mengatakan bahwa Ali dapat menghidupkan mayit (Lihat Kitab Ushuulul Kaafi 1/90-91)
  3. Para ulama Syi’ah mengatakan bahwa debu dan lumpur di kubur Al Husain adalah obat untuk segala penyakit (Kitab Al Amaliy 318)

Akidah Syiah Tentang Sahabat Nabi
Di antara akidah Syi’ah tentang sahabat Nabi adalah :

  1. Syi’ah meyakini bahwa barangsiapa yang melaknat Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, ‘Aisyah, Hafsah radhiyallahu ‘anhum setiap selesai shalat maka dia sungguh telah mendekatkan diri kepada Allah dengan pendekatan diri yang paling utama. (Kitab Furuu’il Kaafi 3/224)
  2. Syi’ah meyakini bahwa seluruh manusia murtad setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali empat orang : Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Miqdad bin Aswad, dan ‘Ammar bin Yasir  (Al Anwar An Ni’maaniyah 1:81)
  3. Syi’ah meyakini bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk menyembah berhala, dan iman beliau seperti imannya orang Yahudi dan Nasrani. Abu Bakar shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara berhala tergantung di lehernya dan Abu Bakar sujud kepadanya. (Lihat Baharul Anwar 25/172)
  4. Sesungguhnya Abu Bakar dan ‘Umar keduanya telah kafir.. dan orang yang mencintai keduanya maka dia juga kafir. (Haqqul Yaqin 522)
  5. Syi’ah mengatakan bahwa ‘Utsaman bin Affan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  termasuk orang yang secara lahir menampakkan Islam  namun menyembunyikan sifat munafik. (Kitab Al Anwar An Ni’maaniyah 1:81)
  6. Syi’ah meyakini bahwa barangsiapa berlepas diri dan meolak tiga khalifah -yakni Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman- dalam setiap malam, apabila dia mati di malam tersebut maka dia masuk surga (Lihat Kitab Ushuulul Kaafi)

Akidah Syi’ah Tentang Istri-Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

  1. Syi’ah meyakini bahwa ‘Aisyah binti Abu Bakar dan Hafsah binti ‘Umar kafir (Kitab Tafsir Al Qumi 597)
  2. Syi’ah meyakini bahwa salah satu pintu neraka adalah untuk ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (Lihat Tafsir Al ‘Ayasyi 2/362)
  3. Syi’ah mengatakan bahwa ‘Aisyah adalah wanita pezina (Lihat Kitab ‘Ilalul Syaraa-i’ 2:565 dan  Haqqul Yaqin 347)

Akidah Syi’ah Tentang Imam-Imam Mereka
Di antara akidah Syi’ah tentang imam-imam mereka adalah :

  1. Syi’ah menyakini bahwa imam-imam mereka adalah perantara antara Allah dan makhluk-Nya (Kitab Baharul Anwar 23/5-99)
  2. Syi’ah tidak membedakan antara Allah dan imam-imam mereka (Lihat Mashabihul Anwar 2/397)
  3. Syi;ah meyakini bahwa imam-imam mereka tidaklah berbicara keculai berdasarkan wahyu (Kitab Baharul Anwar 17/155)
  4. Syi’ah meyakini bahwa imam-imam mereka memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh para nabi dan malaikat (Al Hukumah Al Islamiyah 52)
  5. Syi’ah meyakini bahwa perhitungan amal seluruh makhluk pada hari kiamat adalah kepada imam mereka (Kitab Al Fushuul Muhimmah fii Ushuulil Aimmah 1:446)
  6. Syi’ah meyakini bahwa menziarahi kuburan para imam dan wali mereka merupakan suatu kewajiban dan kafir bagi yang meninggalkannya ( Kitab Kamaluz Ziyaarat 183)

Akidah Taqiyyah
Yang dimaksud taqiyyah menurut ulama Syi’ah adalah adalah

(( التقية أن تقول أو تفعل غير ما تعتقد، لتدفع الضرر عن نفسك أو مالك او لتحفظ بكرامتك)
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini, untuk menghindari mudharat yang mengancam jiwa dan hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu.

Di antara akidah Syi’ah tentang taqiyyah adalah :

  1. Mereka mengatakan : “ Tidak ada iman bagi yang tidak melakukan taqiyyah” (Syarhu ‘Aqaaids Shudduuq 261)
  2. Menurut Syi’ah, barangsiapa yang meninggalkan taqiyyah seperti meninggalkan shalat dan meninggalkannya termasuk dosa besar.. Mereka bermualah bersama kita dan melaksanakan sunnah dengan taqiyyah. Bahkan mereka mengatakan : “ Barangsiapa yang meninggalkan taqiyyah maka dia kafir dari agama Allah. (Kitab Man Laa Yahdharahul Faqiih)
  3. Disebutkan dalam kitab Ushuulul Kaafi dari Abu ‘Abdillah, dia mengatakan : “Ber-taqiyyah-lah dalam agama kalian, dan berhujjahlah dengan taqiyyah, sesungguhnya tidak ada iman bagi yang tidak ber-taqiyyah”

Yang disebutkan di atas hanyalah sebagian saja dari kesesatan akidah – akidah Syi’ah. Masih banyak akidah-akidah lainnya yang menyimpang dari ajaran Islam

Komentar Para Ulama Tentang Syi’ah
Untuk lebih menunjukkan kesesatan Syi’ah, berikut kami nukilkan beberapa komentar para ulama besar tentang ajaran Syi’ah.

قال شيخ الاسلام ابن تيمية – رحمه الله رحمة واسعة – : (( وقد اتفق أهل العلم بالنقل والرواية والاسناد على أن الرافضة أكذب الطوائف، والكذب فيهم قديم، ولهذا كان أئمة الاسلام يعلمون امتيازهم بكثرة الكذب

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Ahli ilmu telah sepakat bahwa Syi’ah Rafidhah merupakan kelompok paling pendusta, dan kedustaan mereka sudah lama dan usang. Oleh karena itu para ulama Islam mengetahui kekhususan mereka dengan banyaknya kedustaan yang ada pada mereka”.

(( سئل مالك – رحمه الله – عن الرافضة فقال : لاتكلمهم ولا تروي عنهم فإنهم يكذبون

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang Rafidhah, beliau mengatakan : “ Jangan berbicara dengan mereka, jangan meriwayatkan dari mereka karena mereka adalah pendusta”.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah :

محمد رسول الله والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا سيماهم في وجوههم من أثر السجود ذلك مثلهم في التوارة ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطئه فئازره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيظ بهم الكفار

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud . Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min)” (Al Fath:29)

(( ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك – رحمة الله عليه – في رواية عنه بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة – رضوان الله عليهم – قال : لأنهم يغيظونهم ومن غاظ الصحابة – رضي الله عنهم – فهو كافر لهذه الآية

Beliau rahimahullah mengatakan : “Berdasarkan ayat ini Imam Malik mengkafirkan Rafidhah yang membenci para sahabat . Karena mereka tidak suka kepada para sahabat. Barang siapa yang tidak suka (benci) kepada sahabat, maka dia telah kafir berdasarkan ayat ini.

وقال أبو حاتم : (( حدثنا حرملة قال : سمعت الشافعي – رحمه الله – يقول لم أرَ أحداً أشهد بالزور من الرافضة )).

Abu Hatim mengatakan : “ Telah menceritakan kepadaku Harmalah, dia berkata : “Aku mendengar Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan” : “ Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih parah kejelekannya daripada Syi’ah Rafidhah”

Setelah menyimak pembahasan di atas, silakan para pembaca menilai sendiri. Berdasarkan akidah-akidah yang ada pada mereka, jelas menunjukkan kesesatan mereka. Begitu jauhnya mereka dari ajaran agama Islam. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita jalan yang lurus dan senantiasa memberi taufiq agar kita istiqamah di atasnya.

Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

Sumber :

  1. ‘Aqaaid Asy Syi’ah bi Ikhtisar min Kutubihim oleh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Atibi di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=176551
  2. Min ‘Aqaaid Asy Syi’ah karya Abdullah bin Muhammad As Salafi

Penulis: Adika Mianoki
Artikel: https://muslim.or.id/8741-pokok-pokok-akidah-syiah.html

Senin, 19 Juni 2017

Inilah 10 Ciri-Ciri Wanita Syiah yang Wajib Kamu Ketahui

Inilah 10 Ciri-Ciri Wanita Syiah yang Wajib Kamu Ketahui

View Article

“Secantik apapun wanita Syiah, aku tidak akan tertarik,” kata seorang pria muslim kepada temannya.
“Mengapa?”

“Sebab aku tidak tahu, dia sudah pernah mut’ah atau belum”

Lalu bagaimanakah ciri-ciri wanita Syiah agar seorang muslim tidak salah pilih saat mencari istri atau mencari menantu?

1. Secara fisik tampilan mereka bisa jadi sama dengan tampilan muslimah, sama-sama menutup aurat. Tetapi pada banyak kesempatan mereka mengenakan pakaian hitam-hitam (jubah hitam dan kerudung hitam, tanpa cadar).

2. Pada beberapa acara keagamaan, selain mengenakan pakaian hitam-hitam, wanita Syiah juga memakai ikat kepala bertuliskan syiar Syiah. Sepintas, tulisan itu tampak biasa tetapi ternyata memiliki makna seruan doa. Misalnya: Ya Ali, Ya Husain, Ya Fatimah.

3. Untuk menyamarkan kata Syiah, mereka menggantinya dengan ahlul bait. Sehingga wanita Syiah sering menyebut istilah ahlul bait, mengklaim diri sebagai pecinta ahlul bait, mengemukakan pendapat ahlul bait ketika membahas persoalan agama dan mengunggulkan mazhab ahlul bait dibandingkan mazhab lainnya.

4. Menunjukkan ketidaksukaan terhadap para sahabat Nabi selain Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pada situasi yang ‘kondusif’ mereka menunjukkan kebenciannya kepada para sahabat Nabi dalam bentuk mencela hingga mengkafirkan, terutama para shabat utama seperti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

5. Tidak mengakui Abu Bakar, Umar dan Utsman sebagai khalifah yang sah. Sebaliknya, mereka menganggap tiga khulafaur rasyidin itu sebagai pengkhianat dan perampas kekuasaan.

6. Meskipun tampilannya seperti aktifis Islam, wanita Syiah tidak suka menghadiri pengajian umat Islam ahlus sunnah, juga tidak suka berada di masjid ahlus sunnah.

7. Menghadiri perayaan-perayaan syiah seperti Idul Ghadir, peringatan Asyura dan lain-lain

8. Ketika puasa Ramadhan, mereka tidak segera berbuka seperti umat Islam tetapi menunggu beberapa saat setelah matahari terbenam hingga tampak bintang gemintang.

9. Tidak berpuasa di hari asyura. Sebaliknya, mereka tampak bersedih dengan kesedihan yang mendalam pada hari itu demi mengingat tragedi Karbala

10. Bersedia, bahkan senang dimut’ah. Mut’ah adalah kawin kontrak untuk jangka waktu tertentu baik dalam hitungan hari, bulan ataupun tahun.

Demikian 10 di antara ciri-ciri wanita Syiah. [Ibnu K/bersamadakwah]

Hadits tentang Syiah Ini Sekarang Terbukti Kebenarannya

Hadits tentang Syiah Ini Sekarang Terbukti Kebenarannya

View Article

Syiah belum ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, hadits tentang syiah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad berisi prediksi munculnya syiah Rafidhah dan ulah mereka kini terbukti.

Syiah muncul sejak seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ mengaku masuk Islam. Ia kemudian memproklamirkan diri sebagai pecinta Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu namun mencela Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu.

Sebagian orang syiah di akhir masa sahabat adalah orang yang mengutamakan Ali di atas seluruh sahabat. Sedangkan orang yang mengutamakan Ali sambil mencela Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat lainnya, mereka disebut syiah rafidhah. Sebagaimana ditulis Ibnu Hajar Al Asqalani:

التشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان ، وأن عليا كان مصيبا في حروبه ، وأن مخالفه مخطئ ، مع تقديم الشيخين وتفضيلهما

‘Tasyayyu’ dalam definisi para ulama masa lalu (salaf), ialah meyakini bahwa Ali lebih utama daripada Utsman, atau bahwa Ali di pihak yang benar dalam semua peperangannya, dan bahwasanya pihak yang menyelisihinya adalah keliru, dengan tetap meyakini Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) lebih utama dan mulia daripada Ali.

والتشيع محبة على وتقديمه على الصحابة فمن قدمه على أبي بكر وعمر فهو غال في تشيعه ويطلق عليه رافضي وإلا فشيعي فإن انضاف إلى ذلك السب أو التصريح بالبغض فغال في الرفض وإن اعتقد الرجعة إلى الدنيا فأشد في الغلو

“Tasyayyu’ adalah mencintai Ali dan mengutamakannya dibanding semua sahabat lain, dan jika mengutamakannya di atas Abu Bakar dan Umar maka dia tasyayyu’ ekstrem yang disebut Rafidhah dan jika tidak maka disebut Syiah, Jika diringi dengan mencela dan membenci keduanya maka disebut Rafidhah ekstrem. Jka mempercayai Raj’ah bahwa Ali kembali ke dunia maka disebut Rafidhah yang sangat ekstrem”

Hadits tentang Syiah


Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, disebutkan:

عَنْ عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَظْهَرُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يُسَمَّوْنَ الرَّافِضَةَ يَرْفُضُونَ الإِسْلاَمَ

Dari Ali bin Abu Thalib bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di akhir zaman akan muncul kaum yang dinamakan Rafidhah, mereka akan menentang Islam” (HR. Ahmad)

Meskipun hadits ini dhaif menurut Syaikh Albani, namun maknanya terbukti. Ketika kaum rafidhah mencela Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, dan mayoritas sahabat sehingga tidak mengakui hadits-hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat itu, pada hakikatnya mereka telah menentang Islam.

Ditambah lagi permusuhan mereka saat ini kepada umat Islam yang bisa dilihat di Iran, Suriah, Irak dan sejumlah negara lainnya sungguh nyata penentangan mereka terhadap Islam meskipun mereka sendiri mengaku Islam.

Karena itu Imam Bukhari menyamakan syiah Rafidhah dengan Yahudi dan Nasrani. Dalam kitab Khalqu Af’alil ‘Ibad beliau menuliskan:

ما أبالي صليتُ خلف الجهمي والرافضي أم صليت خلف اليهود والنصارى

“Aku tidak membedakan apakah aku shalat bermakmum di belakang seorang penganut Jahmiyah atau Rafidhah, ataukah bermakmum di belakang Yahudi dan Nasrani (semuanya tidak sah” [Ibnu K/Bersamadakwah]